<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404</id><updated>2012-02-16T06:27:13.753-08:00</updated><category term='Hadits'/><category term='Pendidikan'/><category term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><category term='Jihad'/><title type='text'>Islamic Study</title><subtitle type='html'>Blog kecil, nasehat untukku.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-5509239259742696623</id><published>2008-11-19T20:05:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T20:10:52.428-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad'/><title type='text'>Misi Kaum Muslimin Menaklukkan Tanah Palestina</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Meski penaklukan ini merupakan misi peperangan, akan tetapi dalam Islam peperangan hanyalah alternatif terakhir dalam menegakkan dakwah tauhid. Sebagaimana menurut Syaikh Ali bin Hassan Al-Halabi, ketika menyampaikan ceramah di Masjid Istiqlal Jakarta, 15-Ferbruari-2006M, beliau mengatakan, peperangan dalam Islam bukanlah perang permusuhan, akan tetapi perang penebusan : peperangan untuk menebarkan sendi-sendi kasih sayang. Membunuh musuh bukanlah tujuan utama dan pertama, akan tetapi itu merupakan pilihan terakhir. Tawaran pertama adalah memeluk agama Islam, kedua adalah membayar upeti dan ketiga adalah tidak mengganggu kaum Muslimin.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Begitulah cara dakwah yang dilancarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum kuffar, sangat elegan dan beradab. Tak terkecuali, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru para raja dan penguasa di tanah Arab dan sekitarnya, yaitu terlebih dahulu menawarkan Islam, dengan cara mengutus delegasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sebagai salah satu contohnya, yaitu ajakan Rasulullah kepada Raja Hiraklius. Sahabat Dihyah mendapat kepercayaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan surat beliau, yang berbunyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Bismillahir Rahmanir Rahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dari Muhammad utusan Allah kepada Hiraklius, Pembesar Romawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sesungguhnya saya menyeru anda dengan misi Islam. Peluklah Islam, niscaya anda akan selamat. Dan Allah memberikan dua pahala bagi anda. Bila anda berpaling, maka anda menanggung dosa orang-orang Arisiyyin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka. Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” [Ali-Imran : 64]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Begitulah, Islam datang saat Palestina dalam genggaman Kerajaan Romawi Nashara. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam mengirimkan beberapa ekspedisi pasukan untuk menaklukan Palestina, yang dahulu menjadi bagian negeri Syam. Berikut adalah kronologis upaya mengambil tanah penuh berkah tersebut dari tangan Kerajaan Romawi Nashara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; PENAKLUKAN PALESTINA PADA MASA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pengiriman Pasukan Ke Mu’tah Pada Tahun 8H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Yang menjadi penyebab perang Mu’tah [1] ini, karena utusan Rasulullah yang membawa risalah kepada Raja Romawi atau Bashra dibunuh oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, salah seorang pembesar Romawi. Pengiriman pasukan ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir, tahun 8H. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Zaid bin Al-Haritsah sebagai komandan pasukan. Beliau berpesan, jika Zaid gugur, maka (beralih) ke Ja’far. Bila Ja’far gugur, maka (beralih) ke Abdullah bin Rawahah [2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pada penyerangan tersebut, pasukan kaum Muslimin yang dikirim berjumlah 3000 orang. Sementara Raja Hiraklius mempersiapkan 100 ribu pasukan, dengan di dukung oleh Malik bin Zafilah yang membawa 100 ribu orang dari kalangan Nashara Arab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Melihat kekuatan musuh sedemikian besar, maka kaum Muslimin mengadakan musyawarah, untuk meminta tambahan pasukan kepada Rasulullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Abdullah bin Rawahah menggelorakan semangat mereka dengan berkata : “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya yang kalian cari ada di hadapan kalian –yaitu mati syahid-. Kita tidak memerangi dengan dukungan jumlah pasukan atau kekuatan. Kita tidak memerangi mereka kecuali karena agama ini, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Bergegaslah. Akan ada salah satu kebaikan (yang diraih), kemenangan atau mati syahid”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Orang-orang pun menyetujuinya. Akhirnya, terjadilah peperangan yang sangat dahsyat  antara kedua belah pihak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Satu persatu, orang-orang yang ditunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin pasukan menjumpai syahadah di medan perang. Khalid bin Al-Walid lah yang kemudian mengambil alih bendera dan memimpin pasukan kaum Muslimin. Dan Allah memberikan kemenangan bagi kaum Muslimin pada perang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Meskipun terjadi perbedaan besar antara jumlah pasukan kaum Muslimin dan kaum kuffar, tetapi tidak banyak para sahabat yang gugur dalam peperangan tersebut. Berdasarkan keterangan para ahli sirah, mereka menyebutkan, yang gugur kurang lebih sepuluh orang saja. Kemenangan ini menjaga batu loncatan untuk menyerang pasukan Romawi pada masa selanjutnya, dan sangat efektif menggetarkan hati orang-orang kafir tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Perang Tabuk Tahun 9H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dalam perang ini, tidak jadi pertempuran. Begitu mendengar kedatangan kaum Muslimin, pasukan Romawi, segera menarik diri sampai ke wilayah Syam. Sehingga kaum Muslimin berada di sana untuk menjalin ikatan perdamaian dengan suku-suku setempat, dengan memberlakukan jizyah pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pengiriman Pasukan Pimpinan Usamah Bin Zaid Tahun 11H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pengiriman pasukan ini sebagai tindak lanjut pengiriman pasukan sebelumnya yang dipimpin sang ayah Usamah bin Haritsah. Beliau memerintahkan agar pasukan Usamah ini diberangkatkan. Perintah ini terjadi saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada masa-masa wafatnya. Saat pasukan ini sampai di daerah Jurf, terdengar khabar bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. Sehingga untuk sementara misi penyerangan ditunda, sampai kemudian terpilihlah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah. Dan sang Khalifah ini yang kemudian melanjutkan misi tersebut dengan tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; PENAKLUKAN SYAM SETELAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM WAFAT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Memberangkatkan Pasukan Usamah bin Zaid Ke Syam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu selaku khalifah, beliau tetap bertekad merealisasikan pengiriman pasukan Usamah yang sudah dipersiapkan Rasulullah menuju Syam. Dengan berjalan kaki, beliau mengantarkan pasukan ini dan memberikan beberapa pesan kepada sang komandan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pasukan Usamah ini bergerak menuju daerah Balqa, yang mencakup Mu’tah. Di sana, pasukan ini memerangi sejumlah orang dari suku Qadha’ah yang murtad, dan berhasil memukul mereka. Setelah tujuh puluh hari sejak pemberangkatannya, pasukan ini kembali ke Madinah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pengaruh dari keberhasilan pasukan ini, menyebabkan para musuh merasa gentar dan ketakutan. Mereka tetap meyakini, bahwa kaum Muslimin masih berada dalam kekuatan penuhnya, meskipun Rasulullah telah wafat. Sehingga kaum kuffar mengurungkan niat untuk melakukan penyerangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pasukan Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Radhiyallahu ‘Anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Setelah menyelesaikan misi pasukan Usamah bin Zaid, selanjutnya Khalifah Abu Bakar juga mengirimkan beberapa pasukan untuk menyerang Syam. Panglima-panglima pasukan yang beliau tunjuk adalah Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Amr bin Al-Ash dan Syarahbil bin Hasanah. Jumlah pasukan mereka kurang lebih 40 ribu jiwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dalam perjalanan, sebagian pasukan menghadapi serangan dari musuh. Yazid bin Abu Sufyan menghadapi tentara Romawi, dan meraih kemenangan atas musuhnya. Sementara Amr bin Al-Ash dan Syarahbil bin Hasanah menghadapi pasukan Romawi yang lain di Ajnadin Palestina. Mereka berhasil memaksa musuh untuk mundur sampai ke Al-Quds.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Selanjutnya, kaum Muslimin harus menghadapi Romawi yang telah menghimpun pasukan secara besar-besaran, jauh lebih besar dari jumlah pasukan Muslimin di bawah pimpinan saudara Hiraklius, yaitu Theoderik. Jumlah mereka 200 ribu pasukan. Oleh karenanya, Amr bin Al-Ash mengusulkan agar seluruh pasukan kaum Muslimin disatukan di Yarmuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Perang Yarmuk Tahun 13H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Begitu Khalifah Abu Bakar mengetahui bahaya yang mengancam dengan besarnya jumlah pasukan musuh, beliau Radhiyallahu ‘anhu memutuskan agar Khalid bin Al-Walid dengan setengah pasukannya yang di Irak, untuk membantu pasukan kaum Muslimin yang berada di Syam. Dengan kegesitan dan kecekatannya, pasukan Khalid bin Al-Walid berhasil melintasi padang pasir ganas dalam waktu yang singkat, kemudian bergabung dengan pasukan Muslimin di Yarmuk. Saat itu, kepemimpinan pun berpusat pada satu orang, yaitu Khalid bin Al-Walid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Peperangan yang sangat hebat ini, juga diikuti oleh tidak kurang seratus sahabat Nabi yang ikut dalam perang Badar. Kaum Muslimin benar-benar menunjukkan keberaniannya untuk berkorban di jalan Allah. Seorang sahabat yang bernama Ikrimah bin Abi Jahal gugur di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Ribuan orang dari kalangan Nashara tewas. Sementara Hiraklius melarikan diri di akhir peperangan, meninggalkan kota Anthakiyah dan Suriah untuk terakhir kalinya. Berita kemenangan kaum Mulimin di Yarmuk, dibarengi dengan wafatnya Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang kemudian digantikan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; PENAKLUKAN SYAM PADA MASA UMAR BIN AL-KHATHTHAB RADHIYALLAHU ‘ANHU.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Penaklukan Damaskus Tahun 14H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Abu Ubaidah bermusyawarah dengan Khalifah Umar, mengenai tujuan penaklukan selanjutnya, Damaskus ataukah wilayah Yordania. Sang Khalifah mengisyaratkan untuk mengarahkan pasukan ke Damaskus terlebih dahulu. Maka, kaum Muslimin mengepung kota tersebut selama enam bulan. Khalid menyerang melalui sisi timur. Sementara Abu Ubaidah berhasil memasukinya dengan jalan damai dari sisi Jabiyah. Dan akhirnya kaum Muslimin berhasil menaklukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Selanjutnya, kaum Muslimin dengan dipimpin Syarahbil bin Hasanah menuju kota Fahl, dan berhasil memukul mundur pasukan Romawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Penaklukan Kota Himsh, Humat, Ladziqiyah Dan Halab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Abu Ubaidah dan pasukan bergerak menuju Himsh dan mengepungnya. Jalan perdamaian menjadi akhir peperangan ini. Begitu pula, kota Humat dan Halab, masuk dalam pangkuan Islam melalui cara damai. Sementara Ladziqiyah, terpaksa ditaklukkan dengan jalan kekerasan. Setelah penduduknya memilih cara itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Penaklukan Kota Anthakiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Anthakiyah, adalah ibukota Imperium Romawi di wilayah timur. Heraklius telah meninggalkannya. Maka, Abu Ubaidah mengepungnya dan takluk melalui jalan damai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Sementara itu, Amr bin Al-Ash mulai merangsek menuju bumi Palestina. Setelah kekalahan di Ajnadin, komandan Romawi mundur dan berlindung di benteng-benteng Baitul Maqdis. Kaum Muslimin membidik kota-kota yang berada di pantai Rafah. Begitu pula dengan Ghaza, Nablus, Amwas, Yafa berhasil ditaklukan oleh kaum Muslimin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Baitul Maqdis Berada Dalam Kekuasaan Kaum Muslimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Setelah itu, Amr bin Al-Ash menuju wilayah Baitul Maqdis dan mengepungnya dalam jangka waktu yang lama. Tatkala penduduk Baitul Maqdis mengetahui batapa kuatnya pengepungan yang dilakukan kaum Muslimin, dan sebaliknya betapa lemahnya mereka untuk menghalau kaum Muslimin, lantaran wilayah-wilayah di pantai telah ditaklukkan, maka mereka mengajukan perdamaian. Dengan syarat, agar Khalifah Umar sendiri yang menanganinya. Maka beliau datang dan menulis ketetapan perdamaian bagi Al-Quds dan menerima kunci-kuncinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Demikianlah, penaklukan Syam berhasil tuntas di masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Maraji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [1]. Ashrul Khilafatir-Rasyidah, Dr Akram Dhiya Al-Umari, Maktabah Al-Obaikan. Cet. III, Th. 1422H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [2]. Al-Khulafaur Rasyidin wad Daulatul Umawiyah, Wizarah Ta’lim Ali. Cet V/Th.1413H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [3]. Al-Jihad an Nabawi fi Fhilasthin, Abu Anas Muhammad Musa Alu Nashr, Majalah Al-Ashalah. Edisi 30, Th V. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [4]. Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, tahqiq Hana Muhammad Jazamati Darul Kitabi Arabi, Beirut, Libanon, cet VI dan Th 1421H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Rabu, 30 April 2008 14:20:38 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt;    MISI KAUM MUSLIMIN MENAKLUKKAN TANAH PALESTINA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Muhammad Ashim Mustofa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; _________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Footnotes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [1]. Sekarang Mu;tah masuk wilayah Yordania&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [2]. HR Al-Bukhari no. 4260-4261&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [3]. Ashrul khilafatir Rasyidah, hal. 370-375&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-5509239259742696623?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/5509239259742696623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=5509239259742696623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/5509239259742696623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/5509239259742696623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/11/misi-kaum-muslimin-menaklukkan-tanah.html' title='Misi Kaum Muslimin Menaklukkan Tanah Palestina'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-7838224580800384547</id><published>2008-11-19T19:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T20:03:56.790-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menimbang Pernyataan Bebas Memilih Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Muncul di tengah kita pemikiran yang menyatakan bahwa semua agama sama. Hingga akhirnya, orang pun memiliki hak kebebasan untuk menentukan agamanya, berpindah-pindah keyakinan, bahkan menciptakan agama baru, dan seterusnya. Pernyataan yang juga diusung kaum liberal ini, kemudian dihubungkan pula dengan dalih hak asasi manusia dan kebebasan dalam memeluk suatu agama dan kepercayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran pernyataan ini? Berikut ini kami angkat risalah Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan. Kami terjemahkan dari Kitab Al-Bayan Li Akhtha'i Ba'dhil-Kuttab, Cetakan Darubnil-Jauzi (2/66-68). Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi. Tidak ada nabi setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga haru kiamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…”[Al-Ahzab : 40]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan aku merupakan penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku” [HR Tirmidzi]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan penutup syari’at. Tidak ada syari’at yang menyamainya, dan tidak ada syari’at baru setelahnya hingga hari kiamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Allah berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” [Ali-Imran : 19]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” [Ali-Imran : 85]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Islam, artinya menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mentauhidkan dan tunduk kepadaNya dengan mentaatiNya, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya. Islam dengan makna seperti inilah yang dibawa semua rasul. Jadi, Islam ialah mentauhidkan Allah, mentaati para rasulNya, dan mengamalkan syari’at yang diberlakukan pada zamannya. Aqidah para nabi itu satu (sama), yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan syariatnya berbeda-beda, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan syariat yang sesuai dengan masanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Untuk tiap-tiap umat di antara kami, Kami berikan aturan dan jalan yang terang” [Al-Ma’idah : 48]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Bagi taip-tiap masa ada kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisiNya-lah terdapat Ummul kitab (Lauh Mahfudz)’[Ar-Ra’d : 38-39]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Apabila suatu syari’at sudah dihapus, maka wajib mengamalkan syari’at baru yang menghapusnya. Tidak boleh mengamalkan syariat yang telah dihapus. Karena mengamalkan yang telah dihapus bukan ibadah, tetapi hanya mengikuti hawa nafsu dan setan. Dan syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan penghapus bagi semua syari’at terdahulu. Karena itu, wajib mengamalkannya dan meninggalkan syari’at lainnya, karena semua sudah terhapus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini mencakup semua yang bisa memberi kebaikan kepada manusia, di setiap tempat dan segala keadaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu” [Al-Maidah : 3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Yang dimaksud dengan kalimat “Islam” dalam ayat ini, ialah dien (agama) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena setelah pengangkatan beliau sebagai Rasul. Istilah Islam digunakan pada syari’at yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada semua manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya” [Saba’ : 28]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Katakanlah :”Hain manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” [Al-A’raf : 158]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh karena itu, seseorang yang tetap bertahan dengan agama-agama terdahulu, seperti Yahudi dan Nasrani atau lainya, berarti ia menjadi orang yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak berada di atas agama yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diikuti, yaitu agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu: [Al-Maidah : 67]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada para raja di muka bumi untuk mengajanya masuk Islam, mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membebankan atas mereka tanggung jawab ittiba’ jika mereka tetap kufur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengirim para utusan ke pelbagai penjuru dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, seraya bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Engkau akan mendatangi sebagian kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan, ialah syahadat Lailaha Illallah dan Muhammad itu Rasulullah” [Al-Hadits]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya” [At-Taubah : 73]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bergegas melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin tentara dan membentuk pasukan untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian para sahabat setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan jihad ini, sehingga berhasil menaklukkan dunia bagian timur dan barat. Dan agama Allah memperoleh kemenangan, meskipun orang-orang musyrik membenci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sehingga, berdasarkan uraian di atas, maka perkataan “bebas memilih agama” merupakan perkataan bathil. Perkataan ini akan mengakibatkan terhapusnya syariat jihad fi sabilillah, padahal Allah Azza wa Jalla berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi, dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka” [Al-Baqarah : 193]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Juga memiliki konsekwensi, tidak perlu dikirimkan Rasul dan diturunkan Kitab untuk memerintahkan (manusia) beribadah kepada Allah Azza wa Jalla semata. Juga berarti, tidak boleh membunuh orang murtad yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dibunuh, (sebagaimana) dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Orang yang menggantikan agamanya, maka bunuhlah dia” [HR Al-Bukhari]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Yang melontarkan perkataan ini, hanyalah golongan penganut ‘wihdatul-wujud’ . Mereka berpendapat bahwa semua yang disembah ialah Allah Azza wa Jalla Maha Tinggi Allah dari ucapan mereka. Perkataan ini kemudian bertemu dengan perkataan orang-oran musyrik ketika diperintahkan oleh para nabi mereka untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla semata dan meninggalkan semua sesembahan yang lain, mereka berkata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan mereka berkata : “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, ya’uq dan Nasr” [Nuh : 23]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu ilah yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” [Shad : 5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” [Al-Baqarah : 256]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Yang dijadikan pegangan oleh para pengusung pendapat ini tanpa alasan yang haq, maka ayat tersebut tidak seperti yang mereka inginkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Al-Iman Ibnu Katsir rahimahullah berkata :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Allah Azza wa Jalla berfirman : “Maksudnya surat Al-Baqarah ayat 256 yaitu, kalian jangan memaksa seseorang untuk memasuki Islam”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Maksudnya sangatlah jelas, tidak perlu memaksa seseorang masuk Islam. Akan tetapi, orang yang diberi petunjuk Allah Azza wa Jalla, dan dilapangkan dadanya untuk menerimanya, serta hatinya disinari, maka ia akan masuk Islam. Sedangkan orang yang dibutakan mata hatinya, pendengaran dan penglihatannya ditutup oleh Allah Azza wa Jalla, maka tidak ada gunanya memaksanya masuk Islam. Para ulama menyebutkan ayat ini turun pada sekelompok orang Anshar, meskipun hukum ayat ini bersifat umum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sebagian ulama berpendapat, pengertian ayat ini dibawakan kepada para ahli kitab dan orang yang mengikuti agama mereka sebelum terjadi perubahan dan pergantian. Jika mereka sudah membayar jizyah (artinya, orang kafir yang telah membayar jizyah ini, jangan dipaksa masuk Islam, -red). Sementara itu, sebagian ulama lainnya mengatakan, bahwa ayat ini telah dimansukh (dihapus hukumnya dan diganti,-red) dengan ayat yang memerintahkan untuk berperang, dan wajib mendakwahi semua umat manusia agar masuk ke dalam agama Islam yang lurus ini. Jika ada di antara manusia yang tidak mau masuk Islam, tidak mau tunduk kepadanya, dan juga tidak mau membayar jizyah, maka ia diperangi sampai terbunuh. Selesai perkataan Ibnu Katsir rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy mengatakan, dalam firman Allah Azza wa Jalla surat Al-Baqarah ayat 256 ini, sebagai penjelasan mengenai kesempurnaan agama ini. Karena kesempurnaan bukti-buktinya, kejelasan ayat-ayatnya, juga karena keberadaan Islam itu sebagai agama (yang sesuai dengan) akal, ilmu, fitrah, hikmah, agama kebaikan dan yang mengadakan perbaikan, agama yang haq dan agama petunjuk. Karena kesempurnaannya ini, juga karena diterima oleh fithrah, maka tidak perlu memaksa manusia masuk Islam. Karena pemaksaan itu ada hanya pada sesuatu yang tidak disenangi hati, bertentangan dengan hakikat dan kebenaran, atau pda sesuatu yang tidak jelas bukti dan tanda-tandanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Jika tidak demikian, maka orang yang telah sampai padanya dien ini lalu dia menolaknya, tidak menerimanya, maka itu dikarenakan oleh pembangkangannya. Karena sudah jelas perbedaan antara petunjuk dan kesesatan. Sehingga, tidak ada alasan dan argumen menolak Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Makna ini, tidak bertentangan dengan banyak ayat yang menyerukan kewajiban jihad. Karena Allah Azza wa Jalla mewajibkan jihad, supaya semua dien (agama) itu hanya untuk Allah Azza wa Jalla, juga untuk menghalau kezhaliman para pelakunya. Dan kaum muslimin sepakat, bahwa jihad itu tetap ada bersama dengan pemimpin yang baik dan zhalim. Itu termasuk yang difardhukan secara terus menerus, jihad melalui ucapan ataupun perbuatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Jadi jelas, maksud firman Allah surat Al-Baqarah ayat 256, bukan membiarkan manusia tetap berada di atas agama kekufuran, kesyirikan ataupun menyimpang, karena Allah Azza wa Jalla menciptakan makhluk agar mereka beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [Adz-Dzariyat : 56]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Baragsiapa yang tidak mau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka orang itu diperangi, sehingga semua agama (ketaatan, -red) itu hanya untuk Allah Azza wa Jalla [1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Demikianlah, kita memohon kepada Allah agar Dia menujukkan kepada kita kebenaran itu sebagai kebenaran, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk mengikutinya, serta menujukkan kepada kita kebathilan itu sebagai sebuah kebathilan dan memberikan kekuatan untuk menjauhinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rabu, 14 Mei 2008 10:50:49 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;    MENIMBANG PERNYATAAN BEBAS MEMILIH AGAMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; _________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Footnotes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [1]. Dan hal ini tentu dengan memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Seperti harus adanya kemampuan dan telah sampainya dakwah kepada mereka. Wallahu a’lam. (-red)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-7838224580800384547?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/7838224580800384547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=7838224580800384547&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/7838224580800384547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/7838224580800384547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/11/menimbang-pernyataan-bebas-memilih.html' title='Menimbang Pernyataan Bebas Memilih Agama'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4065536515822315906</id><published>2008-11-19T19:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T20:01:06.602-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kemana Menyekolahkan Anak ? : Bahaya Pendidikan Sekuler, Syubhat Dan Bantahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;BAHAYA PENDIDIKAN SEKULER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Yang dimaksud pendidikan sekuler ialah pendidikan yang tidak memperhatikan ilmu dienul Islam, atau tidak berasaskan Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Adapun bahayanya banyak sekali, bahaya pengajarnya, materinya, dan pergaulannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Bahaya Pengajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Pada umumnya pengajarnya tidak mengenal aqidah yang benar, atau bodoh terhadap ajaran Islam, dan boleh jadi mereka orang kafir atau musyrik atau orang yang memusuhi Islam, itu semua karena latar belakang pendidikan mereka sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Perhatikan dosen yang mengajar di perguruan tinggi agama Islam dan lainnya. Tentu hal ini akan berbahaya bila penuntut ilmu tidak memiliki aqidah dan syari’at Islam yang benar. Penuntut ilmu (mahasiswa) yang memiliki pengetahuan yang haq pun segan menegur kesalahan pengajarnya karena khawatir tidak lulus. Adapun siswa uang kuat imannya, tentu tidaklah betah bergaul dengan mereka karena Allah Azza wa Jalla menanamkan iman di hati mereka. Lihat surat Al-Hujurat : 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Bahaya Materinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Boleh jadi materi yang diajarkan termasuk perkara yang dilarang menurut ajaran Islam karena berkenaan dengan aqidah dan akhlak, atau membahayakan jasmani dan rohaninya. Maka siswa yang tidak mengenal ajaran Islam yang kaffah tentu sulit untuk menghukumi materi itu boleh dipelajari atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Bahaya Pergaulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Biasanya, pendidikan umum tidak memperhatikan pergaulan siswa dan siswinya, mereka bercampur menjadi satu tanpa ada hijab (pembatas,-red) yang menghalanginya, bahkan pengajarnya campur laki-laki dan wanita. Padahal melihat wanita yang bukan mahramnya hukumnya haram (lihat surat An-Nur : 30-31), apalagi bergaul bebas bertatap muka, sentuh-menyentuh, berkhalwat, dan bepergian tanpa mahram. Tentu dosanya lebih besar daripada manfaat ilmu yang diperolehnya. Perhatikan sekolah kedokteran dan perkuliahan di jurusan lainnya, zina mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki, setiap hari menjemputnya. Siapakah yang bertanggung jawab bila musibah telah menimpa? Siapakah yang bertanggung jawab di akhiratnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Adapun bahaya lain, mereka akan meninggalkan menuntut ilmu dienul Islam dan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla karena mereka sibuk dengan ilmu duniawinya. Bahkan, boleh jadi akan memerangi Islam dan ulamanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; SYUBHAT DAN BANTAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Diantara syubhat (keragu-raguan, red) yang tersebar di kalangan masyarakat, mereka menyekolahkan anak ke sekolah umum dan melalaikan pendidikan aqidah shahihah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; 1). Mengikuti Orang-Orang Pada Umumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Jiwa orang awam seperti terkena virus, kaidah mereka “yang ditiru banyak orang itulah yang baik”. Jika anak tidak masuk sekolah umum maka tidaklah dinamakan bersekolah, itulah aqidah mereka. Oleh karena itu, mereka berebut supaya anaknya diterima di sekolah negeri atau sekolah swasta yang berstatus disamakan –minimlahnya yang diakui-. Padahal prinsip “umumnya” tidak menjamin baik, dan itulah kenyataannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah …” [Al-An’am : 116]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; 2). Khawatir Tidak Dapat Pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Seharusnya orang Islam khawatir apabila dia dan anaknya tidak bisa menuntut ilmu dienul Islam dan tidak memiliki aqidah yang shahihah karena nikmat ini tidak semua orang meraihnya, berbeda dengan kenikmatan berupa rezeki, semua hamba-Nya –yang beriman ataupun kafir- dijamin pasti menerimanya (lihat surat Hud : 6), apalagi mereka mau menuntut ilmu dien dan bertaqwa, niscaya Allah Azza wa Jalla membuka rezekinya dari langit dan bumi (lihat surat Al-A’raf : 96) dan niscaya Allah mengangkat derajatnya (lihat surat Al-Mujadilah : 11).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; 3). Orang Islam Harus Kaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Prinsip “orang Islam harus kaya” bukanlah tujuan hidup orang yang beriman, akan tetapi prinsipnya orang kafir. Tujuan hidup yang benar adalah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla (lihat surat Adz-Dzariyat : 56). Agama Islam tidak melarang orang menjadi kaya, akan tetapi meninggalkan pendidikan Islam untuk mencari kekayaan adalah merusak aqidah dan moral (lihat surat At-Takatsur : 1) dan Al-Humazah : 1-2), bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak khawatir apabila umatnya miskin, akan tetapi khawatir bila umatnya kaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dari Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; “Maka demi Allah, tidaklah aku khawatir bila kamu itu fakir, akan tetapi aku khawatir bila kamu dilapangkan urusan duniawimu sebagaimana orang sebelummu, lalu kamu berlomba-lomba mengejarnya seperti mereka, lalu kamu hancur seperti mereka” [HR Bukhari 2924, Muslim 5261]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; 4). Kemunduran Kaum Muslimin Karena Faktor Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Kami tidak mengigkari bahwa ekonomi penunjang kekuatan kaum muslimin sebagaimana kekuatan kaum muslimin sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Anfal : 60. Akan tetapi, semata-mata mengejar urusan dunia tanpa dilandasi aqidah yang benar, tidaklah memakmurkan Islam, justru sebaliknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kehancuran kaum muslimin karena umatnya ambisi dunia, bukan karena mengejar ilmu Sunnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; “Apabila kamu senang jual beli dengan sistem ‘inah (membeli secara kredit lalu dijual tunai kepada penjual dengan harga lebih murah) dan kamu sibuk dengan memegang ekor sapimu dan kamu lebih menyukai kebunmu, dan kamu tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada dirimu, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencabut kehinaan ini sehingga kamu berpegang kepada agamamu” [HR Abu Dawud : 303, lihat Ash-Shahihah : 11]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Hadits ini menjawab syubhatnya hizbiyyin dan harakiyyin yang punya prinsip seperti di atas, mereka ingin mengajak umat untuk meraih izzah, tetapi dengan cara menghinakan umat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; Akhirnya semoga kita semua senantiasa mendapat perlindungan dan hidayah-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; [Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi I, Tahun VI/Sya'ban 1427/2006. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Sabtu, 17 Mei 2008 13:28:35 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt;    KEMANA MENYEKOLAHKAN ANAK?-3/3-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt; Al-Ustadz Aunur Rofiq Ghufron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4065536515822315906?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4065536515822315906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4065536515822315906&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4065536515822315906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4065536515822315906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/11/kemana-menyekolahkan-anak-bahaya.html' title='Kemana Menyekolahkan Anak ? : Bahaya Pendidikan Sekuler, Syubhat Dan Bantahan'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-2548081769822985596</id><published>2008-11-19T19:06:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T19:48:43.240-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad'/><title type='text'>Hakikat Jihad</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam. Orang yang berjihad akan menempati kedudukan yang tinggi di surga, sebagaimana juga memiliki kedudukan yang tinggi di dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Secara umum, hakikat jihad mempunyai makna yang sangat luas. Yaitu, berjihad melawan hawa nafsu, berjihad melawan setan, dan berjihad melawan orang-orang fasik dari kalangan ahli bid’ah dan maksiat. Sedangkan menurut syara’ jihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir. [Lihat Fathul Bari 6/77]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sehingga dapat disimpulkan, jihad itu meliputi empat bagian :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pertama : Jihad melawan hawa nafsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kedua : Jihad melawan setan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ketiga : Berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keempat : Jihad melawan orang-orang munafik dan kafir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Jihad melawan hawa nafsu, meliputi empat masalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pertama : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mencari dan mempelajari kebenaran agama yang haq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kedua : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ketiga : Berjihad melawan hawa nafsu dalam mendakwahkan ilmu dan agama yang haq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keempat : Berjihad melawan hawa nafsu dengan bersabar dalam mencari ilmu, beramal dan dalam berdakwah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Adapun berjihad melawan setan dapat dilakukan dengan dua cara :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pertama : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan yang berupa syubhat dan keraguan yang dapat mencederai keimanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kedua : Berjihad melawan setan dengan menolak setiap apa yang dilancarkan setan dan keinginan-keinginan hawa nafsu yang merusak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sedangkan berjihad melawan orang-orang fasik, pelaku kezhaliman, pelaku bid’ah dan pelaku kemungkaran, meliputi tiga tahapan. Yaitu dengan tangan apabila mampu. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hati, yang setiap kaum muslimin wajib melakukannya. Yaitu dengan cara membenci mereka, tidak mencintai mereka, tidak duduk bersama mereka, tidak memberikan bantuan terhadap mereka, dan tidak memuji mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Tiga perkara ; barangsiapa yang pada dirinya terdapat tiga perkara ini, maka dia akan mendapatkan kelezatan iman ; Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka” [HR Bukhari dan Muslim]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia berarti telah sempurna imannya” [HR Abu Dawud]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Barangsiapa membuat perkara yang baru atau mendukung pelaku bid’ah, maka dia terkena laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia” [HR Bukhari dan Muslim]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Berjihad melawan orang fasik dengan lisan merupakan hak orang-orang yang memiliki ilmu dan kalangan para ulama yaitu dengan cara menegakkan hujjah dan membantah hujjah mereka, serta menjelaskan kesesatan mereka, baik dengan tulisan ataupun dengan lisan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan : “Yang membantah ahli bid’ah adalah mujahid” [Lihat Al-Fatawa 4/13]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikhul Islam juga mengatakan : “Apabila seorang mubtadi menyeru kepada aqidah yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, atau menempuh manhaj yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dan dikhawatirkan akan menyesatkan manusia, maka wajib untuk menjelaskan kesesatannya, sehingga orang-orang terjaga dari kesesatannya dan mereka mengetahui keadaannya” [Lihat Al-Fatawa 28/221]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh karena itu, membantah ahli bid’ah dengan hujjah dan argumentasi, menjelaskan yang haq, serta menjelaskan bahaya aqidah ahli bid’ah, merupakan sesuatu yang wajib, untuk membersihkan ajaran Allah, agamaNya, manhajNya, syari’atNya. Dan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, menolak kejahatan dan kedustaan ahli bid’ah merupakan fardu kifayah. Karena seandainya Allah tidak membangkitkan orang yang membantah mereka, tentulah agama itu akan rusak. Ketahuilah, kerusakan yang ditimbulkan dari perbuatan mereka, lebih berbahaya daripada berkuasanya orang kafir. Karena kerusakan orang kafir dapat diketahui oleh setiap orang, sedangkan kerusakan pelaku bid’ah hanya diketahui oleh orang-orang alim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Adapun berjihad melawan orang fasik dengan tangan, maka ini menjadi hak bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan atau Amirul Mukminin, yaitu dengan cara menegakkan hudud (hukuman) terhadap setiap orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan RasulNya. Sebagaimana pernah dilakukan Abu Bakar dengan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, Ali bin Abi Thalib memerangi orang-orang Khawarij dan orang-orang Syi’ah Rafidhah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Bagaimana dengan berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir ? Al-Imam Ibnu Qayyim menyatakan, jihad memerangi orang kafir adalah fardhu ‘ain ; dia berjihad dengan hatinya, atau lisannya, atau dengan hartanya, atau dengan tangnnya ; maka setiap muslim berjihad dengan salah satu di antara jenis jihad ini. [Lihat Zadul Ma’ad 3/64]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Akan tetapi, berjihad memerangi orang kafir dengan tangan hukumnya fardhu kifayah, dan tidak menjadi fardhu ‘ain, kecuali jika terpenuhi salah satu dari empat syarat berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pertama : Apabila dia berada di medan pertempuran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kedua : Apabila negerinya diserang musuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan ; “Apabila musuh telah masuk menyerang sebuah negara Islam, maka tidak diragukan lagi, wajib bagi kaum muslimin untuk mempertahankan negaranya dan setiap negara yang terdekat, kemudian yang dekat, karena negara-negara Islam adalah seperti satu negara” (Al-Ikhtiyarat : 311) Jihad ini dinamakan Jihad Difa’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ketiga : Apabila diperintah oleh Imam (Amirul Mukminin) untuk berperang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keempat : Apabila dibutuhkan, maka jihad menjadi wajib. [Lihat al-Mughni, Al-Majmu’, Zaadul Mustaqni]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Adapun disyariatkan jihad melawan orang kafir (dengan tangan), melalui tiga tahapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Pertama : Diizinkan bagi kaum muslimin untuk berperang dengan tanpa diwajibkan. Allah berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj : 39]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kedua : Perintah untuk memerangi setiap orang kafir yang memerangi kaum mulimin. Allah berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-Baqarah : 190]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ketiga : Perintah untuk memerangi seluruh kaum musyrikin sehingga agama Allah tegak di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya ; dan ketahuiilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [At-Taubah : 36]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Tahapan yang ketiga ini tidak dimansukh, sehingga menjadi ketetapan wajibnya jihad sampai hari kiamat. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata : “Marhalah (tahapan) yang ketiga ini tidak dimansukh, tetap wajib sesuai dengan kondisi kaum muslimin” [Fadlu Al-Jihad Wal Mujahidin, 2 : 440]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Demikian secara singkat hakikat jihad berserta tahapan-tahapan perintah tersebut. semua ini harus dipahami oleh kaum muslimin, sehingga dalam menetapkan jihad, sesuai dengan keadaan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahu a’lam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;    Senin, 26 Mei 2008 13:45:41 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;    HAKIKAT JIHAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ustadz Abu Qatadah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-2548081769822985596?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/2548081769822985596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=2548081769822985596&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2548081769822985596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2548081769822985596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/11/hakikat-jihad.html' title='Hakikat Jihad'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-1007668662284599956</id><published>2008-10-27T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-11-15T06:44:52.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Silsilah Hadits-Hadits Dla'if Pilihan</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="judul"&gt;&lt;b&gt;Silsilah Hadits-Hadits Dla'if Pilihan-1       (karya Syaikh al-Albany)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span class="kalender"&gt;Jumat, 24 September 04&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: arial;" class="konten"&gt;&lt;b&gt;Mukaddimah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Mengingat hadits Dla’if (Lemah) sangat banyak terpublikasi       di tengah masyarakat awam dan bahayanya bagi ‘aqidah serta       keberagamaan mereka, maka kiranya perlu diantisipasi dengan       membongkar dan menyingkap hadits-hadits tersebut serta       menjelaskan derajat (kualitas) nya sehingga umat menjadi       melek karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Salah satu upaya yang patut diacungi jempol dan mendapat       sambutan positif di kalangan ulama Islam kontemporer, adalah       buah karya dari Syaikh al-‘Allamah, Nashiruddin al-Albany       atau yang lebih dikenal dengan Syaikh al-Albany. Yaitu, buku       beliau yang berjudul &lt;i&gt;Silsilah al-Ahâdîts adl-Dla’îfah&lt;/i&gt;       yang merupakan matarantai hadits-hadits Dla’if (lemah),       yaitu yang dikategorikan Bathil, Tidak ada dasarnya, Tidak       Shahih, Dla’îf Jiddan (Lemah Sekali), Munkar, Mawdlu’       (Palsu).&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial;" class="fullpost"&gt;     Dengan dimuatnya hadits-hadits tersebut diharapkan kepada       kita agar menghindari penggunaannya dan mencukupkan diri       dengan hadits-hadits yang shahih saja. Dalam hal ini, Syaikh       al-Albany juga menulis buku yang lain yaitu &lt;i&gt;Silsilah       al-Ahâdîts ash-Shahîhah&lt;/i&gt; dimana selain hadits shahih yang       dimuat di dalam kitab &lt;i&gt;ash-Shahîhain&lt;/i&gt; (Shahîh       al-Bukhary dan Muslim), beliau juga telah menyaring dan       menyeleksi hadits-hadits yang shahih saja di dalam       kitab-kitab selain itu alias &lt;i&gt;as-Sunan al-Arba’ah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tentunya, setiap upaya dan niatan yang baik perlu kita       junjung dan sanjung dengan selalu berdoa agar Allah menerima       amal para pencetusnya. Adapun kesalahan dan kekeliruan,       pasti akan ada sebab manusia tidak terlepas dari hal itu,       karenanya pula perlu penyempurnaan lebih lanjut atas       upaya-upaya yang telah dirintis oleh Syaikh al-Albany       tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam penyajian rubrik ini, kami tidak memuat semua apa yang       ditulis dan dipresentasikan oleh Syaikh al-Albany di dalam       bukunya tersebut, sebab akan terlalu panjang, di samping ada       hal-hal yang bersifat teoritis hadits yang kiranya akan       menyulitkan bagi orang awam dan pemula. Tujuan kami di sini,       hanyalah ingin mengingatkan dan memberikan wawasan kepada       para pembaca bahwa hadits-hadits tersebut adalah lemah       (Dla’if) yang para ulama sepakat untuk tidak menjadikannya       sebagai hujjah dalam agama, kecuali terkait dengan       hadits-hadits Dla’if dalam hal &lt;i&gt;Fadlâ`il al-A’mâl&lt;/i&gt;       (amalan-amalan ekstra yang bernilai lebih/utama) yang memang       ada di antara para ulama memberikan persyaratan-persyaratan       tertentu untuk mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Terlepas dari hal itu, setidaknya apa yang kami muat ini       kiranya dapat menjadi bekal bagi para pembaca untuk lebih       berhati-hati di dalam menjalankan agama dan barangkali juga       bisa mengingatkan orang-orang yang belum mengetahuinya.       Rasulullah SAW., bersabda, &lt;i&gt;“Hendaklah orang yang hadir       menyampaikan kepada yang tidak hadir (ghaib).” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Semoga amal ibadah dan niat kita senantiasa kita lakukan       semata-mata untuk mendapatkan ridla-Nya dan bernilai       ikhlash, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;1. HADITS PERTAMA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p dir="rtl" align="justify"&gt;&lt;b&gt;الدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ،       وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ، لاَ عَقْلَ لَهُ &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;      &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Agama itu adalah akal, dan siapa       yang tidak memiliki agama, maka berarti dia tidak berakal.”      &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;KUALITAS HADITS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kualitas hadits ini adalah &lt;b&gt;BATHIL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Takhrij Singkat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Redaksi seperti ini dikeluarkan oleh Imam an-Nasa`iy di       dalam kitab “al-Kuna” dan juga dikeluarkan darinya oleh       ad-Dûlâby di dalam kitab &lt;i&gt;“al-Kuna wa al-Asmâ`”&lt;/i&gt; dari       Abu Malik, Bisyr bin Ghâlib bin Bisyr bin Ghâlib dari       az-Zuhry dari Mujammi’ bin Jariyah dari pamannya secara       marfu’ dengan tanpa dimulai dengan kalimat pertama di atas      &lt;i&gt;“ad-Dîn Huwa al-‘Aql” &lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Pendapat Para Ulama Hadits&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Imam an-Nasa`iy, “Ini adalah hadits Bathil dan Munkar.”   &lt;br /&gt;  2. Ibn Hajar (ketika mengomentari lebih kurang 30-an hadits       tentang keutamaan akal yang dikeluarkan oleh al-Hârits bin       Abi Usâmah di dalam musnadnya) berkata, “Semuanya Mawdlu’”   &lt;br /&gt;  3. Ibn al-Qayyim, “Hadits-hadits tentang akal semuanya       adalah dusta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Komentar Syaikh al-Albany&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Alasan kelemahan hadits ini adalah pada salah seorang       periwayatnya yang bernama Bisyr karena dia seorang periwayat       yang &lt;i&gt;Majhûl&lt;/i&gt; (anonim) sebagaimana dikatakan oleh       al-Azdy dan disetujui oleh Imam adz-Dzahaby di dalam       kitabnya &lt;i&gt;Mîzân al-I’tidâl Fî Naqd ar-Rijâl&lt;/i&gt; dan Ibn       Hajar al-‘Asqalâny di dalam bukunya &lt;i&gt;Lisân al-Mîzân&lt;/i&gt;.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal       tidak ada satupun yang shahih, sehingga berkisar antara       kualitas Dla’if dan Mawdlu’ (Palsu). Hadits-hadits seperti       ini banyak terkoleksi di dalam buku &lt;i&gt;“al-‘Aql wa       Fadl-luhu” &lt;/i&gt;karya Abu Bakar bin Abu ad-Dun-ya atau yang       lebih dikenal dengan Ibn Abi ad-Dun-ya bahkan beliau       mengkritik diamnya pentashih buku tersebut, Syaikh Muhammad       Zâhid al-Kautsary atas riwayat-riwayat yang kualitasnya       demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (SUMBER: &lt;i&gt;Silsilah al-Ahâdîts adl-Dla’îfah&lt;/i&gt; karya       Syaikh al-Albany, no.1, h.53-54)&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-1007668662284599956?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/1007668662284599956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=1007668662284599956&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/1007668662284599956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/1007668662284599956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/10/silsilah-hadits-hadits-dlaif-pilihan-1.html' title='Silsilah Hadits-Hadits Dla&apos;if Pilihan'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-2670978787855499108</id><published>2008-01-29T01:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:47:11.769-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Orang Nyeleneh dianggap sebagai Pembaharu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fitnah yang menimbulkan kerancuan faham itu telah berlangsung lama dan secara internasional, sehingga para pembaharu yang pada hakekatnya adalah nyebal atau nyeleneh alias aneh bila dilihat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, telah ditempatkan pada posisi yang seolah-olah mereka itu adalah Mujaddid, setarap dengan Mujtahid. Pengangkatan dan penempatan secara tidak sah itu justru disahkan dengan cara diajarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta ase-Indonesia, bahkan kemungkinan sedunia, terutama studi Islam di Barat. Bukan sekadar sampai tingkat sarjana namun sampai tingkat pasca sarjananya.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;Kriminalitas di jajaran keilmuan seperti ini tidak langsung bisa dihadang begitu saja, dan tak mudah diinterupsi. Mereka jalan terus dari waktu ke waktu secara sistematis kelembagaan, berkait berkelindan. Itu masih ditambahi dengan dukungan dan dekengan pemerintah lewat lembaga-lembaga lain, swasta yang mengadakan kerjasama entah itu penelitian atau pembelajaran dan sebagainya. Masih pula disebarkan lewat pencetakan buku-buku, penulisan karya-karya ilmiah, seminar, dan disebarkan lewat media-media massa, baik cetak maupun elektronik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kaum revivalis, pemurni agama, dan pemegang teguh ajaran Islam yang punya ghirah Islamiyah mau mencegatnya, ketika kriminalitas telah menyusup secara sistematis di dunia keilmuan, pendidikan, dan struktur pemerintahan/ kelembagaan bahkan media massa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriminalitas tidak boleh dibiarkan. Itu hukum di manapun dalam percaturan hidup ini. Dalam hal ini, bukan karena para tokoh yang punya pemikiran nyeleneh (aneh) itu sejak semula sosok orangnya merupakan musuh. Bukan. Tetapi karena pemikirannya yang dianggap berbahaya bagi kemurnian Islam, maka harus diambil tindakan. Dan masalahnya sudah menjadi dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama pelontaran pemikiran yang tidak sesuai dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, para pelontarnya justru diposisikan sebagai pembaharu, yang dalam Islam disebut mujaddid, yang hal itu mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pencetus penyeleweng yang seharusnya dihukum, malah diposisikan sebagai orang terhormat, yaitu dianggap sebagai mujaddid/ pembaharu. Ini berarti sudah memutar balikkan perkara, yaitu penyeleweng ajaran Islam justru didudukkan sebagai pejuang dan pemikir Islam. Inilah kriminalitas yang cukup berbahaya, maka harus diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu umat yang punya kesempatan untuk mengadili, maka mereka melaksanakan pengadilan, di antaranya pengadilan atas Ali Abdul Raziq (Mesir) tahun 1925. Pengadilan itu dilakukan oleh tokoh-tokoh alim ulama Al-Azhar di bawah pimpinan almarhum Muhammad Abul Fadhal Al-Jiwazi dalam rapat khusus dengan 24 anggota alim ulama, tanggal 22 Muharram 1344H bertepatan dengan 12 Agustus 1925M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Abdul Raziq tiba dan mengucapkan Assalamu’alaikum, tetapi tak seorangpun yang menjawab salamnya itu. Sesudah diadakan tanya jawab yang cukup lama, akhirnya rapat para alim ulama itu memutuskan, menghukum tertuduh (Ali Abdul Raziq) dengan mengeluarkannya dari barisan alim ulama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari hukuman itu: (Rapat khusus para ulama ini) menghapus nama Ali Abdul Raziq dari daftar Universitas Al-Azhar Mesir dan lembaga-lembaga Islam lainnya, memecat dari semua jabatan, memutuskan gaji-gajinya dari tempat kerjanya dan menyatakan tidak layak untuk melakukan pekerjaan sebagai pegawai, baik agama maupun non agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemecatan Syekh Ali Abdul Raziq itu sesuai dengan undang-undang Al-Azhar tahun 1911, yang memberikan mandat kepada Hai’ah Kibaril ‘Ulama (Badan Ulama Terkemuka) untuk mengeluarkan ulama yang tidak sesuai sifat kealimannya dari barisan ulama, dengan kesepakatan 19 kibaril ‘ulama. Undang-undang itu baru sekali diterapkan yaitu untuk Syaikh Ali Abdul Raziq yang kitabnya membentuk arus sekular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun alasan-alasan dijatuhkannya hukuman tersebut menyangkut isi buku al-Islam wa Ushulul Hukm (Islam dan dasar-dasar hukum) yang Ali Abdul Raziq karang di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Ali menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at rohani semata, tidak ada hubungannya dengan pemerintahan dan pelaksanaan hukum dalam urusan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syekh Ali menganggap jihad Nabi saw itu untuk mencapai kerajaan. Zakat, jizyah, ghonimah dan lain-lain pun demi mencapai kerajan juga, dengan demikian semua itu dianggap keluar dari batas-batas risalah Nabi saw, bukan peristiwa wahyu dan bukan perintah Allah SWT. Forum ulama membacakan ayat-ayat yang berkenaan dengan jihad fi sabilillah, ayat-ayat khusus zakat, cara pengaturan uang sedekah, pembagian ghonimah (harta rampasan perang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berkenaan dengan anggapannya bahwa tatanan hukum di zaman Nabi saw tidak jelas, meragukan, tidak stabil, tidak sempurna dan menimbulkan berbagai tanda tanya. Kemudian ia menetapkan bagi dirinya suatu madzhab, katanya: “Sebenarnya pewalian Muhammad saw atas segenap kaum mukminin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan.” Ini cara berbahaya yang ditempuhnya, melucuti Nabi saw dari hukum pemerintahan. Anggapan Syekh Ali itu bertentangan dengan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الله. (النساء: 105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu.” (QS An-Nisa’: 105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Syekh Ali menganggap tugas Nabi hanya menyampaikan syari’at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya. Kalau anggapannya itu benar, tentulah ini merupakan penolakannya terhadap semua ayat-ayat hukum pemerintahan yang banyak terdapat dalam Al-Qur’anul Karim dan bertentangan dengan Sunnah Rasul saw yang jelas dan tegas .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ia mengingkari kesepakatan (ijma’) para sahabat Rasulullah saw untuk mengangkat seorang Imam dan bahwa menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengangkat orang yang mampu mengurus permasalahan agama dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ia tidak mengakui kalau peradilan itu suatu tugas syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ia beranggapan bahwa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq dan pemerintahan Khulafaur Rasyidin sesudahnya tidak agamis. Ini justru kelancangan Syekh Ali yang tidak agamis.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman berkaitan dengan syari’at juga dijatuhkan terhadap. Khalaf Allah di Mesir yang ditentukan hukuman fasakh nikahnya (batalnya pernikahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang oleh Kurzman disebut sebagai korban kekerasan, secara tidak proporsional. Tetapi kalau dari kacamata yang lebih jernih, sebenarnya yang terjadi adalah hukuman terhadap pelaku kriminalitas pemikiran yang dilancarkan dengan sistem kriminal pula. Yaitu, pemikiran (orang sekuler ataupun Islam Liberal) itu sendiri sudah bernilai menohok Islam, lalu dipasarkan secara sistematis lewat jalur-jalur strategis yaitu pendidikan, kelembagaan, dan media massa. Maka ketika umat Islam punya kekuasaan untuk mengadilinya, diadililah, dan dijatuhi hukuman. Sebagaimana tokoh Tasawuf, Al-Hallaj yang berfaham hulul (melebur dengan Tuhan) dan itu menyesatkan aqidah umat, maka dia diadili dan dihukum mati di jembatan Baghdad tahun 309H/ 922M.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika umat Islam tidak memiliki kekuasaan untuk mengadili mereka yang bergerak di bidang kriminal lewat keilmuan itu, maka ada beberapa macam yang umat tempuh. Hingga pelaku kriminal lewat pemikiran itu ada yang ditembak mati ketika keluar dari mobilnya, seperti tokoh sekuler yang dianggap murtad yaitu Faraq Fauda di Mesir 1993. Ada yang “diadili” secara seminar khusus seperti Nurcholish Madjid di Masjid Amir Hamzah di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta, Desember 1992. Ada yang dikucilkan dari masjid-masjid ataupun kajian-kajian, seperti teman-teman dan murid-murid Nurcholish Madjid khabarnya disingkiri oleh banyak pengurus masjid atau lembaga Islam di Jakarta. Bahkan hanya sebagai pendukung Nurcholish Madjid saja bisa terkena imbasnya. Contohnya, dalam rapat pendirian/ pembentukan Partai Bulan Bintang (PBB) setelah jatuhnya Presiden Soeharto 1998, yang di sana ada Pak Anwar Haryono bekas petinggi partai Islam Masyumi dan tokoh-tokoh lainnya, ketika Prof Dawam Rahardjo (yang dikenal sebagai pendukung Nurcholish Madjid) –saat itu tidak hadir-- diusulkan dalam calon kepengurusan, langsung ada yang berteriak keras: “Jangan! Dawam itu orang sesat, dia!” Keruan saja seluruh hadirin kaget, namun tidak ada yang membantah teriakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuktazilahkan IAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, penyusupan pemutarbalikan keilmuan yang dilakukan Harun Nasution dan kawan-kawannnya atau murid-muridnya sejak 1977 itu satu sisi dianggap oleh pemrakarsanya sudah bisa merubah dan memuktazilahkan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) atau –menurut klaim Harun Nasution adalah merasionalkannya. Itu jelas diakui dengan nada bangga oleh Harun Nasution ketika penulis wawancarai tahun 1992[3]. Tetapi dari sisi lain, pemuktazilahan bahkan pengislam liberalan seperti itu bagi orang yang jeli adalah menambah derita alumni IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sisi, dipojokkannya pendidikan Islam dengan berbagai cara secara internasional (itu merupakan salah satu cabang ghozwul fikri/ serbuan pemikiran) di antaranya dengan cara dipersempit lapangan kerja bagi alumninya, menimpa juga pada alumni IAIN dan perguruan tinggi Islam pada umumnya. Dari satu sisi itu saja sudah menderita. Masih pula pada gilirannya, setelah masyarakat tahu bahwa IAIN dan perguruan tinggi Islam di Indonesia itu diprogram untuk dimuktazilahkan, bahkan diliberalkan sampai nyeleneh (aneh), maka lembaga-lembaga Islam kemungkinan besar akan pikir-pikir lebih dulu kalau untuk menggunakan tenaga dari lulusan IAIN atau perguruan tinggi Islam produk Indonesia. Sehingga, penerimaan tenaga di lembaga-lembaga Islam --untuk mencari amannya-- daripada memilih tenaga yang sudah teracuni oleh pemahaman liberal ataupun Muktazilah maka lebih memilih alumni Timur Tengah, ataupun LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), atau pesantren-pesantren yang diyakini fahamnya tidak nyeleneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian halnya, maka lapangan kerja alumni IAIN dan perguruan tinggi Islam seakan hanya di Departemen Agama, itupun bersaing dengan alumni-alumni dari mana-mana. Dan mungkin masih ada sedikit peluang yaitu di media massa yang kira-kira memilih orang-orang yang dekat dengan sekuler, kiri, atau Islam yang suka nyeleneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keengganan masyarakat Islam untuk mempercayai kehandalan IAIN, berbalik arah dibanding rasa percaya diri yang bahkan mungkin berbau arogansi/ kesombongan sebagian dosen atau alumni dan mahasiswanya. Memang ada dosen-dosen yang namanya mencuat di tingkat nasional, walau bukan dalam ilmu Islamnya, misalnya sebagai komentator politik atau peristiwa-peristiwa sesaat, dadakan. Atau ada yang dipuji-puji koran yang seide dengan mereka, karena nilainya yang bagus dan bisa menulis pikiran-pikiran gurunya –yang pada hakekatnya adalah nyeleneh belaka, dan diterbitkan di penerbitan non Islam alias Katolik, misalnya. Tetapi, kebanggaan yang disandang dengan sedikit arogansi itu tiba-tiba ada kepedihan yang dirasakan pula, karena warga dosen IAIN Jakarta pun di masyarakat dikhabarkan bahwa ada 8 orang yang menjadi pengajar di Institut Apostolos, tempat menggodok calon-calon penginjil nasional. Bahkan lebih prihatin lagi, karena ada yang setelah dikuliahkan atas nama studi Islam ke negeri kafir Barat ternyata dia kemudian ketika balik lagi untuk mengajar di IAIN ia tidak sholat, dan bahkan berani bilang, apakah kalau orang kafir tidak boleh mengajar di IAIN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegetiran itu menyurutkan kesombongan yang sempat muncul sementara tadi, dan masih diliputi kegetiran pula, karena masyarakat menyayangkan terhadap IAIN lantaran gejala tumbuh suburnya Forkot (aliran kiri bahkan menurut masyarakat dianggap sebagai berbau komunis) di perguruan tinggi Islam itu. Kata Abdul Qadir Jaelani, seorang da’i dari Bogor Jawa Barat, tumbuh suburnya Forkot / Forum Kota di IAIN Jakarta terutama Fakultas Ushuluddin itu karena di sana ada pengajarnya, orang Jesuit, Nasrani Fanatik, yaitu Fran Magnis Suseno SJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, IAIN adalah perguruan tinggi Islam yang memberikan pengajaran di tingkat akademik bagi anak-anak Muslim. Umat Islam Indonesia punya banyak perhatian padanya, maka kondisi yang seperti itu sebenarnya menjadi keprihatinan bagi Muslimin Indonesia, walau mungkin jadi “kebanggaan” bagi segelintir orang yang punya misi tertentu dan telah bisa mengubah IAIN sebagai sasaran misinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu Pak Dr Said Agil Al-Munawar belum tampak mampu mewarnai IAIN Jakarta walaupun jadi direktur Pasca Sarjananya, maka apakah ketika beliau jadi Menteri Agama tahun 2001 ini akan mampu mengubah visi dan misi IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia, dari Muktazilah dan nyeleneh serta liberal, menjadi Islam yang benar sesuai ajaran Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Harun Nasution bisa merubah IAIN, kemudian kebablasan, kemudian sekarang entah arahnya ke mana seperti itu. Padahal dia bukan menteri. Barangkali orang Brunei kini bersyukur, karena mereka telah berani menolak Harun Nasution untuk mengajar di perguruan tinggi Brunei Darussalam tahun 1985-an. Sebaliknya Abah Anom di Tasik Malaya Jawa Barat yang pemimpin tarekat –yang menurut fatwa para Ulama Lajnah Daaimah Saudi Arabia dinyatakan sesat menyesatkan— itupun bersyukur, karena hanya seorang pemimpin tarekat di desa yang terangkat namanya di masa Orde Baru ternyata punya murid seorang Prof Dr Harun Nasution hingga lebih melancarkan pengajaran-pengajarannya yang belum tentu sesuai dengan Islam itu. Antara syukur yang satu (orang Brunei yang menolak Harun Nasution) dengan syukur yang lain (Abah Anom yang menerima Harun sebagai muridnya) itu berbeda arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Islam di Tengah Persekongkolan Musuh Abad 20, Fathi Yakan, GIP, juga lihat Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, 1994, hal 83-85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, cetakan 3, 1422H/ 2001M, hal 77.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dalam wawancara 1992, Harun Nasution mengatakan: IAIN sudah berubah. Faham sunnatullah ini masuk di filsafat dan teologi, bukan hanya di Fakultas Ushuluddin tetapi di seluruh fakultas di 14 IAIN. Hanya yang berkembang betul di Jakarta, kemudian di Yogya. Pengembangan itu sudah banyak tenaganya. Mahasiswa yang dikirim ke luar negeri banyak. Dan yang sudah berkecimpung di sini banyak. Seperti Nurcholish Madjid, Din Syamsuddin, Komaruddin, dan akan datang Azyumardi. (Saya/ penulis tanyakan: Ini bisa dikatakan era Muktazilah?). Ya, sudah masuklah. Tapi saya tidak suka disebut Muktazilah, tapi rasional. Muktazilah itu orang Barat menyebutkan Rasionalis, sedang Ahlis Sunnah dan Jabbariyah itu Tradisionalis. (Lihat buku Rukun Iman Diguncang, Pustaka An-Naba’, Jakarta, cetakan II, Mei 2000, halaman 6).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Ada Pemurtadan di IAIN&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-2670978787855499108?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/2670978787855499108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=2670978787855499108&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2670978787855499108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2670978787855499108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/01/fitnah-yang-menimbulkan-kerancuan-faham.html' title='Orang Nyeleneh dianggap sebagai Pembaharu'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4378167263904223269</id><published>2008-01-28T23:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T20:24:01.868-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Islam Telah Diselewengkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akar masalah lancarnya pemurtadan dan kristenisasi adalah system pendidikan Islam yang telah diselewengkan. Kurikulum perguruan tinggi Islam tidak islami lagi, karena diambil dari hasil eksperimen dan rancangan orientalis Barat yang misinya adalah penjajahan, kristenisasi dan westernisasi/ pembaratan. Bahkan kurikulum IAIN, UIN, STAIN, dan STAIS kini penekanannya pada apa yang disebut sosio histories. Masih pula alokasinya diperluas muatan lokalnya sampai 43 persen. Muatan local yang arah penekanannya sosio histories itu sendiri secara alokasi waktu tentunya sudah membabat mata kuliah keislaman yang mestinya lebih didalami.Sehingga tak mengherankan kalau dosen-dosen mata kuliah aqidah (bahkan aqidah saja sudah diganti dengan pemikiran Islam berupa subnya, yaitu ilmu kalam) dan pengajar mata kuliah syari’ah tentunya banyak yang nganggur atau harus mengajar mata kuliah lain, misalnya muatan local atau malahan hermeneutika (metode tafsir Bible) yang justru merusak pemahaman Islam. Yang tadinya mendidik mahasiswa agar memahami Islam berubah mengajari mahasiswa agar bingung terhadap Islam atau menjadi orang yang kerjanya mengkritisi Islam, bukan mengamalkannya dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Atau sementara masih mengajar tafsir namun mengajar pula hermeneutika, sehingga diri sang dosen itu sendiri bingung (namun bisa pula mengklaim dirinya justru lebih luas wawasannya), apalagi mahasiswanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan system pendidikan Islam seperti itu, maka para orangtua yang menguliahkan anak-anaknya dengan harapan agar menjadi ulama yang sholih sama sekali harapan itu terabaikan.Yang muncul justru sarjana-sarjana agama Islam yang pemahaman Islamnya tidak berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj (metode pemahaman) salafus shalih (generasi awal Islam: sahabat Nabi saw, tabi’in dan tabi’it tabi’in), namun pemahaman Islam yang hanya berlandaskan pemikiran-pemikiran, entah benar entah salah. Karena yang dijadikan mata kuliah dasar (semua mahasiswa harus ikut, dan yang swasta harus ujian negeri) adalah apa yang disebut Sejarah Pemikiran Islam, yaitu tentang sekte-sekte/ aliran-aliran, tasawuf, dan filsafat. Dan apa yang disebut mata kuliah Sejarah Kebudayaan/ Peradaban Islam yang lebih menitik beratkan kepada politik dan peperangan serta aneka budaya di kalangan umat Islam yang tentu saja belum tentu sesuai dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akibatnya, perguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta itu menghasilkan sarjana-sarjana agama Islam yang tidak faham Islam secara benar (karena mata kulah dasarnya Sejarah Pemikiran Islam dan Sejarah Kebudayaan/ Peradaban Islam), dan tidak sedikit yang membentuk pemandangan aneh, yaitu bersinergi dengan pihak kafirin yang melancarkan kristenisasi, pemurtadan, dan perusakan Islam. Kedua belah pihak (sarjana agama Islam dan kafirin pembawa misi pemurtadan dan kristenisasi) yang seharusnya saling berhadapan itu justru bergandeng tangan dalam melancarkan pemurtadan dan kristenisasi, karena rahimnya sama, yaitu orientalis Barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kondisi itu didukung dan diprogramkan secara sistematis oleh penguasa yang memang sejak merdeka 1945 dipegang oleh kaum sekuler dan senantiasa menghadapi Islam. Akhir-akhir ini diperparah dengan kepentingan-kepentingan tertentu misalnya untuk menambah utang kepada kekuatan dunia kafirin, atau untuk melanggengkan kekuasaan, maka sering-sering ditunjukkan dengan pendhaliman terhadap umat Islam, sebagai sesaji terhadap thaghut pemilik modal dan kekuatan dunia. Dan aneka syarat yang di antaranya menekan umat Islam pun tentu dituruti. Namun semua itu sulit dibuktikan, karena tentu saja dokumen-dokumen tidak diedarkan, atau pembicaraan pun tidak diedarkan. Hanya saja secara logika dan kenyataan memang terasa, karena pidato-pidato para pejabat sering membuat stigma terhadap umat Islam. Dulu ada istilah yang membuat bulu kuduk merinding kalau pejabat menuding umat Islam sebagai ekstrim kanan. Kini istilah itu diganti dengan kecaman model Yahudi yaitu teroris, padahal justru Yahudilah teroris sejati yang membantai ribuan orang Palestina. Namun stigma itu justru dicapkan terhadap umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sistem pendidikan Islam di perguruan tinggi Islam yang sudah membahayakan bagi generasi Islam di Indonesia itu kini masih ditambah lagi bahayanya dengan dimasukkannya metode untuk menafsiri Bible yakni apa yang mereka sebut hermeneutika, ke perguruan-perguruan tinggi Islam untuk menyaingi metode ilmu tafsir yang sudah baku dalam Islam untuk memahami/ menafsiri Al-Qur’an. Adian Husaini aktivis KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) mengemukakan keprihatinannya mengenai masalah hermeneutika yang dipompakan di perguruan tinggi Islam, di antaranya dia kemukakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Majalah GATRA edisi 3 April 2004 menurunkan laporan cukup panjang tentang fenomena kajian hermeneutika di kalangan perguruan Islam di Indonesia. Disebutkan, dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Islam Negeri Jakarta dan IAIN Yogyakarta sudah mengajarkan mata kuliah Hermenutika untuk mahasiswanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada dasarnya, hermeneutika adalah metode tafsir Bible, yang kemudian dikembangkan oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode interpretasi teks secara umum. Oleh sebagian cendekiawan Muslim, kemudian metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai alternatif dari metode pemahaman al-Quran yang dikenal sebagai ilmu tafsir. Jika metode atau cara pemahaman al-Quran sudah mengikuti metode kaum Yahudi-Nasrani dalam memahami Bible, maka patut dipertanyakan, bagaimanakah masa depan kaum Muslim di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di antara implikasinya, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari manapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai lingkaran hermeneutis, dimana makna senantiasa berubah. Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi (textual corruption and scribal errors). Tetapi tidak untuk al-Qur’an yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;menolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan mufassir-mufassir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali (liar).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dampak penggunaan metode hermeneutika terhadap pemikiran Islam sudah sangat mencolok di Indonesia. Misalnya, pemikiran tentang tidak boleh adanya truth claim (klaim kebenaran) dari satu agama tertentu. Paham ini disebarkan secara meluas. Pada 1 Maret 2004 lalu, dalam sebuah seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, seorang profesor juga mengajukan gagasan tentang tidak bolehnya kaum Muslim melakukan truth claim. Sebab, hanya Allah yang tahu kebanaran. (Lebih jelasnya, silahkan membaca di bagian lampiran buku ini).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Itulah bahaya pemompaan “ilmu tafsir” untuk Bible namun diajarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam untuk menafsiri Al-Qur’an, yang tentu saja sejalan dengan program pemurtadan dan kristenisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemurtadan dan kristenisasi digencarkan bukan semata-mata mengiming-imingi harta dan semacamnya kepada Muslimin agar masuk Kristen, namun telah menempuh berbagai cara dan lebih canggih ketimbang cara Snouck Hurgronje yang mengkristenkan Muslimin Nusantara dengan cara “membelandakan”, yakni mengarahkan pribumi dengan budaya Belanda agar kebelanda-belandaan, nantinya mereka akan jadi Kristen sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekarang ini cara konvensional (mengiming-imingi supermie, indomie dan semacamnya) plus teori Souck Hurgronje masih dijalankan, dan telah ditingkatkan menjadi bentuk iming-iming dana kepada para tokoh Islam serta lembaga-lembaganya untuk menjalankan misi pemurtadan, kristenisasi, dan perusakan Islam. Sehingga cara-cara kristenisasi model lama itu dipadukan, lalu dimodivikasi, jadilah kristenisasi, pemurtadan, dan penjauhan umat dari Islam secara sistematis. Yaitu dana-dana yang tadinya untuk disebarkan kepada masyarakat umum Muslimin calon-calon korban, kini diubah sistemnya agar lebih efektif, yaitu dikumpulkan jadi satu, diberikan kepada tokoh-tokoh Islam plus lembaga-lembaganya, lalu disetir agar para tokoh beserta lembaga-lembaganya itu untuk melancarkan misi kristenisasi, pemurtadan, dan penjauhan umat dari Islam secara sistematis. Paket-paket dana itu untuk upah jasa pemasaran paket materi perusakan Islam, pemurtadan, dan kristenisasi yang terancang rapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengaburkan Islam dengan Pendekatan ala Kristen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau Snouck Hurgronje hanya menyebut secara garis besar yaitu kristenisasi lewat budaya “pembelandaan”, maka rancangan Snouck itu telah dikembangkan dengan paket-paket yang telah disistematisasi dalam perusakan Islam dan pengaburan pemahaman Islam serta pendekatan model Kristen. Hingga pembahasan para antek pemurtadan dan kristenisasi yang masih menamakan diri sebagai Muslim itu cukup mengusung paket-paket yang telah disiapkan pihak kafir pendana. Di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;1. Pengubahan kurikulum di perguruan-perguruan tinggi Islam dari mata kuliah yang akan membentuk pemahaman Islam secara manhaj (metode pemahaman) yang selamat yaitu manhaj salafush shalih (generasi awal Islam: sahabat Nabi saw, tabi’in dan tabi’it tabi’in) diganti dengan kurikulum yang landasannya bukan Al-Qur’an dan As-Sunnah lagi, namun hanya pemikiran-pemikiran dan peradaban-peradaban, entah benar entah salah. Dengan dialihkan seperti itu maka tujuannya untuk mengalihkan pemahaman Islam kepada pemahaman kekafiran, yaitu menganggap bahwa agama apa saja benar, bukan hanya Islam yang benar. Bahkan tidak boleh menganggap bahwa hanya Islam lah yang benar. Itulah pemahaman pluralisme agama, menyamakan semua agama, yang menurut Islam adalah faham kekafiran, dan orangnya jadi kafir alias murtad, kelak menjadi penghuni neraka selama-lamanya, abadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2. Pengajaran hermeneutika, metodologi pemahaman/penafsiran teks Bible, dipompakan di perguruan-perguruan tinggi Islam, agar Al-Qur’an tidak lagi diyakini sebagai kalamullah (firman Allah) namun sebagai teks biasa karangan Nabi Muhammad saw, dan boleh ditafsirkan oleh siapa saja, dan tidak ada makna baku. Akibatnya, Islam tidak difahami sebagai agama wahyu yang murni dari Allah SWT, hingga sama saja dengan agama-agama lain, sampai agama yang jelas-jelas menentang Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3. Mencerai beraikan aqidah Islam, syari’ah atau hukum-hukumnya dengan aneka cara, di antaranya Islam dibatasi dengan waktu dan tempat, sehingga Islam di zaman sekarang ditafsirkan dengan ditarik-tarik ke arah kondisi dan situasi sekarang. Akibatnya, banyak hal dalam Islam yang dianggap tidak berlaku lagi, misalnya jilbab pakaian kaum Muslimah dan sebagainya, bahkan haramnya menikahi orang musyrik pun dianggap tidak berlaku. Ini bentuk kekafiran yang nyata menentang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;4. Mengkotakkan Islam hingga tidak perlu dipakai dalam kehidupan, dengan memunculkan aturan-aturan baru model sekuler, hingga yang dipakai adalah yang sekluer. Misalnya, demokrasi, gender, feminisme, humanisme, masalah keadilan model sekuler dan hak asasi manusia serta politik model sekuler. Akibatnya, Islam tidak diberi ruang lagi, bahkan dicurigai sebagai merusak atau melanggar hak asasi manusia, merusak demokrasi. Sehingga larangan-larangan Islam misalnya larangan berzina dan homoseks yang telah jelas hukuman-hukumannya pun dicela dan dianggap melanggar hak asasi manusia. Dalam kasus semacam ini, hak asasi manusia dan demokrasi telah dipertuhankan atau jadi thaghut yang dianggap cukup ampuh untuk memberangus Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;5. Dengan berbagai jalan yang merusak Islam itu, maka para tokoh Islam (sewaan kafirin) yang melancarkan perusakan Islam dengan menjadi agen-agen missionaries dan imperialis/ penjajah model baru itu menangguk dana dari kafirin dan kemungkinan bisa mulus dalam menduduki jabatan di masyarakat atau bahkan kemungkinan di pemerintahan. Dari sana mereka menyebarkan pendapat-pendapat yang merusak Islam, memurtadkan, dan memuluskan jalan kristenisasi secara leluasa dikutip dan disebarkan oleh aneka media massa, lebih-lebih media massa yang juga disewa kafirin untuk merusak Islam dan misi pemurtadan serta kristenisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;6. Para tokoh bahkan ulama dan cendekiawan yang sudah bisa disewa untuk merusak Islam itu tentu mempersilakan pemurtadan dan kristenisasi, bahkan tidak sedikit yang nyambi ngobyek ke pendeta-pendeta (atau disewa pendeta) untuk memuluskan kristenisasi, contohnya memberi kata pengantar buku-buku pendeta, khutbah/ pidato di gereja-gereja, menghadiri upacara-upacara natalan di gereja dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;7. Merekayasa para tokoh Islam yang masih istiqomah/ kosnisten dengan Islam yang manhajnya sesuai manhaj salafus shalih untuk dipecundangi, bahkan dipenjarakan dan dikucilkan serta diberi cap-cap buruk misalnya sebagai teroris, ekstrimis, fundamentalis, kolot dan sebagainya. Hingga umat Islam agar menjauh dari tokoh Islam dan ulama yang istiqomah dalam Islamnya, supaya umat tidak tahu Islam yang benar, dan tidak ada ghirah Islamiyah lagi, sehingga pemurtadan agar lebih lancar dan kristenisasi tak terhalang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;8. Mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah-daerah yang diperkirakan akan kondusif dalam penyiaran Islam yang benar atau tidak terganggunya Islam. Misalnya ada larangan minuman keras begitu saja, maka antek-antek pemurtadan dan kristenisasi itu akan melancarkan kritik yang setajam-tajamnya, sambil menguraikan ratapan atas menganggurnya sekian juta orang akibat tidak beredarnya minuman keras. Ini sangat berbalikan dengan hal-hal yang berbau penerapan Islam (bukan larangan) misalnya aturan memakai pakaian muslimah yang menutup aurat di Aceh, maka para antek penjajah modern yang pro kristenisasi itu akan mengkritik sejadi-jadinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penjajahan model baru yang menggilas Islam ini lebih dahsyat bahayanya dibanding sekadar penjajahan fisik walaupun berlangsung 3,5 abad. Karena, di zaman penjajahan Belanda selama 3,5 abad belum ada orang yang mengaku Islam lantas mengatakan bahwa Al-Qur’an itu diragukan kemurniannya. Namun, penjajahan model kini dalam rangka pemurtadan dan kristenisasi serta penjauhan Islam dari umatnya ini telah lebih jauh dan sangat- sangat jauh perusakannya terhadap Islam. Islam diacak-acak, kristenisasi dan pemurtadan diberi jalan secara bergotong royong antar para antek yang mengais-ngais dana dari kafirin. Mereka pakai baju Islam dan lembaga Islam, namun sebenarnya lebih berbahaya dibanding para pendeta dan misionaris yang paling jago yakni Snouck Hurgronje dan Van der Plash. Kini telah bermunculan Snouck-Snouck dan Van der Plas-Van der Plash baru berkulit sawo matang, tidak berkulit putih model Belanda, yang lebih sangat berbahaya. Dalam sejarahnya, kalau disebut Van der Plash, orientalis Belanda di Jawa, orang langsung punya anggapan bahwa dia itu adalah syetan. Namun anehnya, kini Van der Plash-Van der Plash baru belum dicap sebagai syetan. Memang tempo-tempo sudah ada yang dijuluki Iblis, namun penyebutan itu baru terbatas di forum-forum tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perusakan Islam secara sistematis itu telah jelas, di antara jalan utamanya adalah jalur pendidikan, dengan mengubah kurikulum pendidikan Islam ke arah sekuler dan pluralisme agama seperti uraian di atas. Walaupun hasilnya sudah sangat merusak Islam, namun Amerika masih belum puas. Mereka masih mengintervensi pendidikan Islam di Indonesia, hingga pesantren-pesantren pun dikucuri dana 157 juta dolar untuk mengubah kurikulumnya, lewat Departemen Agama RI. Maka KH Ahmad Khalil Ridwan dari BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia), mengatakan, “Saya serukan kepada para kiai pesantren agara tidak mau menerima duit Amerika lewat Departemen Agama Rp50 juta kalau disuruh mengubah kurikulum pesantren model mereka.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Adanya semacam reaksi dari umat Islam itu, kemudian tampaknya tidak menyurutkan Amerika dan kafirin lainnya, bahkan akan benar-benar dipompakan pengubahan kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia itu. Hingga tegas-tegas dikomandokan lagi oleh Amerika Juni 2004, dalam mengobok-obok Islam lewat pendidikan Islam, yakni mengubah kurikulum menurut selera kafir mereka, dengan dalih memberantas apa yang mereka sebut terorisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Radio BBC memberitakan, Menteri Pertahanan Amerika Donald Rumsfeld mendesak negara-negara Asia untuk terus melanjutkan upaya mencabut apa yang mereka sebut akar terorisme. Dalam konperensi keamanan di Singapura, Rumsfeld mengatakan satu hal yang penting adalah mempengaruhi anak anak muda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ia menyebutkan tentang pesantren, yang menurutnya harus diberikan dana untuk mengajarkan pelajaran lain dan bukannya terorisme. (BBC London, 5/6 2004).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setelah Amerika dan Barat telah merasa sukses menggarap perguruan tinggi Islam di Indonesia sesuai dengan misi sekuler dan anti Islamnya, dan bahkan hasilnya sudah tampak nyata sebagaimana uraian di atas mengenai perusakan Islam, pemurtadan dan kristenisasi yang dilancarkan oleh antek-antek kafirin di antaranya para sarjana keluaran perguruan tinggi Islam, ternyata Amerika masih kurang puas. Lantas pesantren menjadi bidikan utama untuk dijadikan jalan utama dalam mengubah pemahaman Islam ke arah sekuler, pluralisme agama, pemurtadan, dan kristenisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Benteng pertahanan Islam adalah pesantren-pesantren. Kalau pesantren sudah diobok-obok untuk dijadikan agen pemurtadan, pensekuleran, kristenisasi, dan perusakan Islam, maka sungguh akan seperti fungsi masjid dhiror buatan kaum munafiqin di Madinah zaman Nabi Muhammad saw yang langsung Allah perintahkan untuk dihancurkan. Maka Nabi saw mengutus sahabatnya untuk membakarnya sampai ludes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah banyak yang dialih fungsikan sebagai masjid-masjid dhiror untuk mencelakakan Islam. Lantas pesantren-pesantren pun akan dimasjid dhirorkan pula. Betapa ngerinya kalau umat Islam ini nanti di bawah asuhan dan bahkan kungkungan para pengelola masjid-masjid dhiror di bawah komando kafirin tingkat dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebelum masalah sangat berat itu terjadi, maka jalan yang mesti ditempuh umat Islam yang masih istiqomah adalah menyelamatkan lembaga-lembaga pendidikan Islam dari system dhiror buatan kafirin. Caranya, mesti dikembalikanlah system pendidikan Islam, (lebih-lebih perguruan tinggi Islam wabil khusus program S2 dan S3) ke kurikulum pendidikan Islam yang benar, system pendidikan Islam yang benar. Para Ulama dan pendidik Muslim perlu merumuskan dan merancang kembali kurikulum pendidikan Islam yang benar, yang jauh dari obok-obokan kaum kafirin. Yaitu kurikulum pendidikan Islam yang melandaskan Islam pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj (metode pemahaman) salafus shalih, yaitu generasi terbaik Islam, tak lain adalah generasi bimbingan Rasul saw dan bimbingan wahyu, yakni generasi sahabat Nabi saw yang diikuti para tabi’in dan tabi’it tabi’in. Semua ajaran Islam yang difahami dan diamalkan oleh tiga generasi awal itu sudah diwarisi oleh para ulama yang terpercaya dan telah dibukukan secara sistematis, hingga masih utuh sampai kini, dan bisa dirujuk, mana yang shahih (benar) dan mana yang tidak. Pendidikan Islam dengan pemahaman yang selamat yaitu pemahaman salafus shalih itulah benteng sebenarnya bagi Islam. Maka pengajaran Islam yang benar itu harus dilaksanakan di seluruh kalangan umat Islam, yaitu di seluruh lembaga pendidikan Islam, baik perguruan tinggi Islam, perguruan menengah, maupun madrasah ibtidaiyah, pesantren-pesantren dan bahkan pengajian-pengajian di masjid-masjid dan majelis-majelis ta’lim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau kelak umat Islam telah faham Islam dengan pemahaman yang benar, maka insya Allah cap-cap buruk atas orang-orang yang jadi agen pengkafiran, pemurtadan, kristenisasi, sekulerisasi, dan perusakan agama itupun akan melekat pada mereka dengan sendirinya. Sehingga dana bermiliar-miliar dari kafirin yang telah dikorbankan untuk pemurtadan dan kristenisasi serta penjauhan Islam dari umatnya itu akan muspra sia-sia, sedang para penangguk dana itupun akan mati dengan mendapatkan laknat serta kutukan dari Allah SWT, para malaikat, ulama yang shalih, dan umat Islam pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Allah akan membalikkan tipu daya mereka kepada mereka sendiri, dan karena yang dirusak itu adalah agama Allah, maka Dia lah yang akan membalas langsung kejahatan mereka. Itu sesuai dengan firman Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Ali Imran: 54).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS As-Shaff: 8).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kerja keras mereka siang malam demi menangguk dolar dari kafirin dan menipu umat Islam itu tidak jauh dari kecaman Allah SWT terhadap kaum munafiqin:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah; 9).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nabi Muhammad saw telah memperingatkan dalam hadits:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Diriwayatkan dari Ali r.a, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat . (HR Muttafaq ‘alaih).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Celakalah para perusak Islam, antek pemurtadan dan kristeniasi. Dan berbahagialah orang yang melawan upaya-upaya jahat itu dengan ikhlas demi meninggikan kalimah Allah sebagai kalimah yang tinggi. Semua itu membutuhkan ilmu, kesabaran, dan kecermatan yang tinggi. Kalau perjuangan ini sungguh-sungguh, maka sesuai dengan yang Allah janjikan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabut: 69).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mudah-mudahan umat Islam ini menjadi pejuang-pejuang yang telah dijanjikan Allah untuk ditunjukkan jalan-jalan-Nya, yaitu jalan kebenaran yang sejati, yang kini sedang dirusak secara sistematis dan beramai-ramai oleh antek-antek kafirin seperti yang diuraikan dalam buku ini. Hanya kepadaMu ya Allah, kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan. Tolonglah hambaMu dari bahaya para pengkhianat agamaMu yang sekarang sedang marak merusak Islam ini.Amien.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4378167263904223269?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4378167263904223269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4378167263904223269&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4378167263904223269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4378167263904223269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/01/akar-masalah-lancarnya-pemurtadan-dan.html' title='Pendidikan Islam Telah Diselewengkan'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-3437028791326535330</id><published>2008-01-19T06:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:42:31.530-08:00</updated><title type='text'>Bahaya Islam Liberal</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: left;font-family:arial;"&gt;Islam liberal  tampaknya bukan merupakan nama baku dari satu kelompok Islam, namun hanyalah satu kategori untuk memudahkan analisis. Sehingga  orang-orang yang dikategorikan dalam Islam liberal itu sendiri ada yang saling berjauhan pendapatnya bahkan yang satu mengkritik tajam yang lain. Misalnjya, Ali Abdul Raziq dari Mesir yang  menulis buku Al-Islam wa Ushulul Hukm dikritik tajam oleh Rasyid Ridha dan Dhiyauddin Rayis. &lt;span class="fullpost"&gt;Namun yang dikritik maupun pengkritiknya itu kedua belah pihak dimasukkan dalam kategori Islam Liberal, sebagaimana ditulis dalam buku Charles Kurzman, Liberal Islam: A Sourcebook. Padahal, di kalangan Islam revivalis (salafi), Rasyid Ridha adalah seorang salaf, yang diakui sebagai ulama yang menguasai Hadits pula. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikian pula, Dr. Faraj  Faudah[1] (Faraq Fuda, Mesir 1945-1993) tokoh sekuler di Mesir yang mati ditembak orang, April 1993, dan dinyatakan murtad oleh seorang ulama terkemuka di Mesir Muhammad Al-Ghazali, oleh Kurzman dimasukkan pula dalam barisan Islam Liberal yang menurutnya: secara tidak proporsional, menjadi korban kekerasan. Sebagaimana Dr Muhammad Khalaf Allah (Mesir, lahir 1916) yang dalam acara debat Islam dan Sekuler di Mesir 1992 dia jelas sebagai wakil kelompok sekuler, oleh Kurzman dimasukkan pula dalam kelompok Islam Liberal yang teraniaya seperti Dr Faraj Faudah. Hanya saja dia sebutkan, tidak hanya dipaksa untuk membakar seluruh salinan karyanya, tetapi juga dipaksa untuk menegaskan kembali keimanannya kepada Islam dan kembali memperbarui perjanjian perkawinannya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bahkan Ahmad Dahlan (1868-1923M) pendiri Muhammadiyah dan Ahmad Surkati ulama Al-Irsyad gurunya Prof Dr HM Rasjidi[3]  dimasukkan pula dalam barisan Islam Liberal. Sebaliknya, Nurcholish Madjid  yang sejak tahun 1970-an mengemukakan pikiran sekularisasinya dan dibantah oleh HM Rasjidi, dimasukkan pula dalam jajaran Islam Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kurzman yang alumni Harvad dan Berkeley itu menandai para tokoh Islam Liberal adalah orang-orang yang mengadakan pembaruan lewat pendidikan, dengan memakai sistem pendidikan non Islam alias Barat. Maka secara umum, tokoh-tokoh Islam Liberal itu menurutnya, adalah orang-orang modernis atau pembaharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Secara pengkategorian untuk menampilkan analisis, Kurzman telah memilih nama Islam Liberal sebagai wadah, tanpa menilai tentang benar tidaknya gagasan-gagasan dari para tokoh yang tulisannya dikumpulkan, 39 penulis dari 19 negara, sejak tahun 1920-an. Namun dia memberikan pengantar tentang perjalanan tokoh-tokoh Islam Liberal sejak abad 18, dimulai oleh Syah Waliyullah (India, 1703-1762) yang dianggap sebagai cikal bakal Islam Liberal, karena walaupun fahamnya revival (salaf) namun menurut Kurzman, bersikap lebih humanistik terhadap tradisi Islam adat,  dibanding yang Wahabi atau kelompok kebangkitan Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Digambarkan, orang Islam Liberal angkatan abad 18, 19, dan awal abad 20 mengakomodasi Barat dengan kurang begitu faham seluk beluk Barat. Tetapi kaum Liberalis angkatan setelah itu lebih-lebih sejak  1970-an adalah orang-orang yang faham dengan kondisi Barat karena bahkan mereka keluaran Barat, Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Gambaran itu perlu diselidiki pula, seberapa kemampuan mereka dalam hal ilmu-ilmu Islam pada angkatan abad 18, 19, dan awal abad 20; dan seberapa pula kaum Liberalis yang angkatan belakangan sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal  Dimasyhurkan dengan Sebutan Pembaharu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengkategorian Islam Liberal seperti yang dilakukan Kurzman itu, sebenarnya secara bentuk pemahaman hanya satu bentuk pengelompokan yang longgar, artinya tidak mempunyai sifat yang khusus apalagi seragam. Dilihat dari segi akomodatifnya terhadap Islam tradisi, mereka belum tentu. Dilihat dari segi mesti berhadapan dengan revivalis (salafi) kadang tidak juga. Buktinya, kenapa Rasyid Ridha yang digolongkan salafi oleh kaum salaf dimasukkan pula dalam Islam Liberal. Demikian pula Ahmad Surkati dan Ahmad Dahlan yang dianggap “musuh” NU (Nahdlatul Ulama/ Islam tradisi) dimasukkan dalam Islam Liberal pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, penyebutan Islam Liberal yang dipakai Kurzman itu justru agak mendekati kepada realitas pemahaman, dibanding apa yang dilakukan oleh Dr Harun Nasution yang tentunya dijiplak juga dari Barat[4], kemudian bukunya jadi materi pokok di IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Harun Nasution ataupun kurikulum di IAIN  menamakan seluruh tokoh Islam Liberal itu dengan sebutan kaum Modernis atau Pembaharu, dan dimasukkan dalam mata kuliah yang disebut aliran-aliran modern dalam Islam. Yaitu membahas apa yang disebut dengan pemikiran dan gerakan pembaruan dalam Islam. Kemudian istilah yang dibuat-buat itu masih dikuat-kuatkan lagi dengan istilah bikinan yang mereka sebut Periode Modern dalam Sejarah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Pemerkosaan seperti itu diujudkan dengan menampilkan buku, di antaranya Harun Nasution menulis buku yang biasa untuk referensi di seluruh IAIN dan perguruan tinggi Islam di Indonesia, Pembaharuan dalam Islam –Sejarah dan Gerakan, terbit pertama  1975. Dalam buku itu, pokoknya hantam kromo, semuanya adalah pembaharu atau modernis. Sehingga yang revivalis (salafi) seperti Muhammad bin Abdul Wahab yang mengembalikan Islam sebagaimana ajaran awalnya ketika zaman Nabi, sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, sampai yang menghalalkan dansa-dansa campur aduk laki perempuan seperti Rifa’at At-Thahthawi (Mesir) semuanya dikategorikan dalam satu nama yaitu kaum Modernis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendiang Prof Dr Harun  Nasu­tion alumni MMcGill Canada yang bertugas di IAIN Jakarta itu pun memuji  Rifa'at Thahthawi (orang Mesir alumni Prancis) sebagai pembaharu  dan pembuka pintu ijtihad (Pembaharuan dalam Islam Sejarah  Pemikiran dan  Gerakan,  hal 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal, menurut Ali  Muhammad  Juraisyah dosen  Syari'ah di Jami'ah Islam Madinah, Rifa'at  Thahthawi  itu alumni  Barat yang paling berbahaya.  Rifa'at Thahthawi   tinggal di Paris 1826-1831M yang kemudian kembali ke Mesir dengan  bicara tentang dansa yang ia lihat di Paris bahwa hanya sejenis  keindahan dan kegairahan muda, tidaklah fasik berdansa itu dan tidaklah fasik  (tidak melanggar agama) berdempetan badan (dalam  berdansa laki-perempuan itu, pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Juraisyah berkomentar: Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لكل بني آدم حظ من الزنا: فالعينان تزنيان وزناهما النظر، واليدان تزنيان وزناهما البطش، والرجلان تزنيان وزناهما المشي، والفم يزني وزناه القبل، والقلب يهوي ويتمنى، والفرج يصدق ذلك أو يكذبه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal 'ainaani tazniyaani&lt;br /&gt;wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu,&lt;br /&gt;warrijlaani  tazniyaani  wazinaahumal  masy-yu,  walfamu   yaznii&lt;br /&gt;wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushod&lt;br /&gt;diqu dzaalika au yukaddzibuhu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Artinya: "Setiap  bani Adam ada potensi berzina:  maka  dua  mata berzina  dan  zinanya  melihat, dua tangan  berzina  dan  zinanya memegang,  dua kaki berzina dan zinanya berjalan,  mulut  berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu  atau  membohongkannya.” (Hadits Musnad Ahmad juz 2  hal  243,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan  kata-kata yang  berbeda namun maknanya sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Benarlah Rasulullah SAW   dan bohonglah Syekh Thahthawi.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pencampuradukan yang dilakukan Harun Nasution --antara tokoh yang memurnikan Islam dan yang berpendapat melenceng dari Islam-- dalam bukunya ataupun kurikulum perkuliahan itu memunculkan kerancuan yang sangat dahsyat, dan paling banter dalam perkuliahan-perkuliahan hanya dibedakan, yang satu (revivalis/ salafi, pemurni Islam) disebut sebagai kaum modernis, sedang yang lain, yang menerima nasionalisme, demokrasi, bahkan dansa-dansi, disebut Neo Modernis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kerancuan-kerancuan semacam itu, baik disengaja atau malah sudah diprogramkan sejak mereka belajar di Barat, sebenarnya telah mencampur adukkan hal-hal yang bertentangan satu sama lain, dijadikan dalam satu wadah dengan satu sebutan: Modernis atau Pembaharu.  Baik itu dibikin oleh ilmuwan Barat yang membuat kategorisasi ngawur-ngawuran itu berdisiplin ilmu sosiologi seperti Kurzman, maupun orang Indonesia alumni Barat  yang lebih menekankan filsafat daripada syari’at Islam  (di antaranya dengan mempersoalkan tentang siksa di hari kiamat)[6] seperti Dr Harun Nasution, mereka telah membuat sebutan atau kategorisasi yang tidak mewakili isi. Dan itu menjadi  fitnah dalam keilmuan, sehingga terjadi kerancuan pemahaman, terutama menyangkut masalah “pembaharuan” atau tajdid.  Karena, tajdid itu sendiri adalah direkomendasi oleh Nabi saw bahwa setiap di ujung 100 tahun ada seorang mujaddid (pembaharu) dari umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها.( رواه أبو داود).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap akhir seratus tahun (satu abad), orang yang akan memperbarui agamanya.”&lt;br /&gt;(Hadis dari Abu Hurairah, Riwayat Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi, mereka menshahihkannya, dan juga dishahihkan oleh Al’Iraqi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi, dan Nasiruddin Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kalau orang yang menghalalkan dansa-dansi campur aduk laki perempuan model di Prancis, yaitu Rifa’at At-Thahthawi di Mesir, justru dikategorikan sebagai pembaharu atau mujaddid, bahkan dianggap sebagai pembuka pintu ijtihad, apakah itu bukan fitnah dari segi pemahaman ilmu dan bahkan dari sisi ajaran agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal, menurut kitab  Mafhuum Tajdiidid Dien oleh Busthami Muhammad Said, pembaharuan yang dimaksud dalam istilah tajdid itu adalah mengembalikan Islam seperti awal mulanya. Abu Sahl Ash-Sha’luki mendefinisikan tajdid dengan menyatakan, “Tajdiduddin ialah mengembalikan Islam seperti pada zaman salaf yang pertama.”[7] Atau menghidupkan sunnah dalam Islam yang sudah mati di masyarakat.  Jadi bukannya mengadakan pemahaman-pemahaman baru apalagi yang aneh-aneh yang tak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan adapun menyimpulkan hukum sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai hal-hal baru, itu namanya ijtihad. Jadi yang diperlukan dalam Islam adalah tajdid dan ijtihad, bukan pembaharuan dalam arti mengakomodasi Barat ataupun adat sesuai selera tanpa memperhatikan landasan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dr. Faraj Faudah (Faraq Fuda 1945-1993) adalah wakil dari kelompok sekuler  bersama Dr Muhammad Khalaf Allah dalam menghadapi  wakil kelompok Islam yaitu Syekh Muhammad Al-Ghazali, Muhammad Al-Ma’mun Al-Hudaibi, dan Dr Muhammad Imarah dalam acara debat Islam dan Sekuler yang kedua, 1992. Debat pertama dilaksanakan 1987M/ 1407H, pihak Islam diwakili Syekh Muhammad Al-Ghazali dan Dr Yusuf Al-Qaradhawi berhadapan dengan pihak sekuler yang diwakili Dr Fuad Zakaria. Kemudian dalam kasus terbunuhnya Dr Faraj Faudah April 1993, Syekh Muhammad Al-Ghazali didatangkan di pengadilan sebagai saksi ahli (hukum Islam), Juli 1993 di Mesir. Kesaksian Syekh Muhammad Al-Ghazali cukup membuat kelabakan pihak sekuler, karena menurut Syekh Muhammad Al-Ghozali, sekuler itu hukumnya adalah keluar dari Islam. (Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1994M/ 1415H, halaman 89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Charles Kurzman (ed), Liberal Islam: A Sourcebook, terejemahan Bahrul Ulum dan Heri Junaidi, Wacana Islam Liberal, Paramadina, Jakarta, 2001, hal  xxix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Menteri Agama RI pertama, dulu bernama Saridi, lalu diubah oleh gurunya –Syekh Ahmad Surkati-- waktu sekolah di Al-Irsyad, menjadi Rasyidi. Lihat buku 70 Tahun HM Rasyidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Karena menurut almarhum Dr Peunoh Dali guru besar IAIN Jakarta, Pak Harun Nasution itu adalah orang yang kagum terhadap Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] . Ali Juraisyah, Asaaliibul Ghazwil Fikri lil 'Aalamil Islami, hal 13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Ketika Dr Harun Nasution melontarkan pendapatnya yang mempersoalkan adanya siksa di hari akhir kelak, tahun 1985-an, dan dibantah orang di antaranya HM Rasjidi, saya sebagai wartawan menanyakan kepada Dr Quraish Shihab dalam satu perjalanan Jakarta- Palembang. Jawab Dr Quraish Shihab, kalau yang dimaskud siksa itu penganiayaan yaitu kedhaliman Allah terhadap hambaNya, itu ya tidak ada. Tetapi kalau siksa itu adzab sebagai balasan perbuatan dosa, ya tentu saja ada. Jawaban  itu tadi agak mengagetkan saya, dan baru sembuh kekagetan saya ketika penggalan akhir dia ucapkan. Namun ada jawaban yang lebih mengagetkan saya. Ketika Porkas (judi lotre nasional masa Soeharto) baru muncul, saya bertanya kepada Prof KH Ibrahim Hosen, LML, Ketua Komisi Fatwa MUI/ Majelis Ulama Indonesia, bagaimana tanggapan beliau tentang dimunculkannnya Porkas oleh pemerintah itu. Sambil siap-siap masuk ke dalam mobil di halaman Masjid Istiqlal Jakarta, beliau berkata: Anda jangan tanya tentang yang kecil-kecil seperti itu. Porkas itu masalah kecil. Tanyakan masalah yang besar kepada orang yang mengatakan bahwa di akherat nanti tidak ada siksa. Itu masalah besar, ucap Pak Ibrahim Hosen sambil masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan waktu, ternyata Porkas yang beliau sebut masalah kecil itu menjadi masalah besar secara nasional selama bertahun-tahun. Masyarakat banyak yang melarat dan gila. Di jalan-jalan banyak orang yang menanyakan nomor lotre kepada orang-orang gila. Di mana-mana banyak sonji alias dukun-dukun tebak angka lotre. Di tempat-tempat yang mereka anggap keramat jadi tempat “peribadahan” pemburu nomor judi lotre yang belakangan namanya diubah jadi SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Saya pikir, masalah kecil saja kalau dibiarkan, dan tidak diharamkan oleh MUI sejak awal, tahu-tahu jadi besar dan menjadi musibah aqidah umat Islam se- Indonesia. Apalagi pikiran sesat yang disebut masalah besar oleh Pak Ibrahim Hosen yang menganggap kecil masalah Porkas itu tadi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Busthami Muhammad Sa’id, Mafhum Tajdiduddin, terjemahan Ibnu Marjan dan Ibadurrahman, Gerakan Pembaruan Agama: Antara Modernisme dan Tajdiduddin, PT Wacana Lazuardi Amanah, Bekasi, cetakan pertama, 1416H/ 1995M, hal  15.&lt;/span&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-3437028791326535330?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/3437028791326535330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=3437028791326535330&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3437028791326535330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3437028791326535330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2008/01/bahaya-islam-liberal.html' title='Bahaya Islam Liberal'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-3420974329390215222</id><published>2007-12-29T23:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T21:03:40.430-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Larangan Sholat Menghadap Kubur</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Larangan Sholat Menghadap Kubur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jumat, 28 Desember 2007    &lt;/span&gt;                   &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Hadits Yang Menunjukkan Larangan Menjadikan Kubur Sebagai Masjid (Tempat Ibadah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;em&gt;“Dari ‘Aisyah, Rosululloh bersabda ketika sakit dalam keadaan berbaring, ‘Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.’ Aisyah berkata, ‘Kalau bukan karena (laknat) itu niscaya kuburan beliau (Rosululloh) ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja para sahabat takut kuburnya akan dijadikan sebagai masjid.’”&lt;/em&gt; (HR. Bukhori dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Beliau bersabda pula sebelum wafat, &lt;em&gt;“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan makam Nabi mereka dan orang sholih di antara mereka sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut.”&lt;/em&gt; (Shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah). Rosululloh berkata pula, &lt;em&gt;“Ya Alloh, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid.”&lt;/em&gt; (Shohih, riwayat Ahmad, Ibnu Sa’ad).&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Makna Menjadikan Kubur Sebagai Masjid&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dalam sabda Nabi &lt;em&gt;“menjadikan kubur sebagai masjid”&lt;/em&gt; terkandung 3 pengertian; (1) Sholat di atas kubur, dengan makna sujud di atasnya. (2) Sujud menghadap kubur, jadkan kiblat sholat dan doa. (3) Membangun masjid di atasnya untuk sholat di tempat itu. (&lt;em&gt;Tahdzirus sajid min ittikhodzil Qubur masajid&lt;/em&gt;, Syaikh Al Albani).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Larangan Sholat di Atas Atau Menghadap Kubur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ketahuilah Saudaraku, semoga Alloh Ta'ala memberi hidayah kepadaku dan kepadamu, bahwasanya Rosululloh telah melarang shalat dengan menghadap kubur. Beliau bersabda: &lt;em&gt;"Janganlah kalian shalat menghadap kubur dan jangan pula shalat di atasnya."&lt;/em&gt; (Shohih, riwayat Ath Thobroni) dan sabda lainnya, &lt;em&gt;"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadap ke arahnya."&lt;/em&gt; (HR. Muslim dan Abu Dawud)&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Perhatikanlah Saudaraku, semoga Alloh melapangkan dadamu, pada hadits tersebut Rosululloh melarang umatnya untuk sholat menghadap kubur walaupun tidak disertai dengan keyakinan atau i’tiqod mencari berkah pada kubur, mengagungkannya atau semisal itu. Jika sholat menghadap kubur tanpa keyakinan seperti ini saja dilarang, tentunya orang yang sholat ke arah kubur untuk mencari berkah atau mengagungkannya pasti akan diingkari lebih keras lagi oleh Rosululloh. Keyakinan yang demikian akan membawa pelakunya kepada kekafiran.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Tidak Boleh Membangun Masjid di Atas Kubur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Suatu perkara yang mencengangkan ketika terdapat masjid yang dibangun di atas kuburan, terlebih lagi masjid yang di dalamnya terdapat kubur terletak di arah kiblatnya kemudian para jama'ah shalat menghadap kubur tersebut. Bahkan membangun masjid di atas kuburan adalah suatu budaya yang tidak asing lagi di negara-negara kaum muslimin, bahkan di negara kita, &lt;em&gt;Allahu Akbar!&lt;/em&gt; Mereka berkeyakinan dibangunnya masjid di atas kuburan merupakan pengagungan dan penghormatan terhadap pemilik kubur tersebut, apalagi jika yang dikubur itu seorang sholih. Mereka menganggap kubur itu akan mendatangkan keberkahan bagi orang yang shalat di masjid itu. &lt;em&gt;Na'uudzu billah&lt;/em&gt;. Ketahuilah, bahwa seluruh imam madzhab mengharamkan membangun masjid di atas kuburan!!&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Al 'Allamah Al Qori &lt;em&gt;rohimahulloh&lt;/em&gt; di dalam kitab &lt;em&gt;Al Mirqaat&lt;/em&gt; berkata, "Pembangunan masjid di atas kuburan mengandung pengagungan yang berlebihan, sehingga sudah sampai pada tingkat penyembahan. Jika pengagungan benar-benar ditujukan kepada kuburan atau pemiliknya, maka yang melakukannya itu sudah kafir. Oleh karena itu menyerupai tindakan itu makruh, dan kemakruhannya ini masuk dalam kategori haram.Yang termasuk dalam pengertian tersebut atau bahkan lebih parah dari itu adalah jenazah yang diletakkan di kiblat orang-orang shalat. (kecuali sholat Jenazah -ed)"&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Tidaklah Rosululloh melarang kita terhadap sesuatu kecuali hal itu mengandung kerusakan yang besar. Maka bagaimana menurutmu tentang orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid? Saudaraku, itu adalah perbuatan dosa, bahkan dosa besar! Karena orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid berarti dia telah melakukan suatu peribadatan kepada selain Alloh. Ini merupakan kemungkaran besar dan kesyirikan. Padahal Allah Ta'ala berfirman, &lt;em&gt;"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu melakukan peribadatan/menyembah kepada selain Allah (di dalamnya) di samping (beribadah kepada) Allah."&lt;/em&gt; (Al Jin: 18)&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dengan demikian wahai Saudaraku, jelaslah bagimu bahwasanya hikmah larangan shalat menghadap kubur ini untuk mencegah kaum muslimin terjatuh dalam perkara-perkara di atas yang merupakan perantara kepada kesyirikan kepada Alloh. Semoga Alloh menjauhkan kita dari perbuatan syirik dan mewafatkan kita dalam keadaan bertauhid. &lt;em&gt;Wallohu Ta'ala a'lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Tingkat pembahasan: Dasar&lt;br /&gt;Penulis: Ichwan Muslim&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;source : www.muslim.or.id&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-3420974329390215222?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/3420974329390215222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=3420974329390215222&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3420974329390215222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3420974329390215222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/larangan-sholat-menghadap-kubur.html' title='Larangan Sholat Menghadap Kubur'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-3410993519012931918</id><published>2007-12-29T22:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T22:02:23.846-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Menjadikan Kyai Sebagai Sesembahan Selain Allah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menjadikan Kyai Sebagai Sesembahan Selain Allah     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jumat, 28 Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alloh Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita agar melaksakan taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Alloh Ta'ala berfirman yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh, taatilah Rosul-Nya dan pemimpin kalian." (An Nisa': 59)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Para ulama menjelaskan ayat di atas bahwa ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya merupakan ketaatan yang mutlak, sedangkan ketaatan kepada makhluk itu tergantung pada ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Jika makhluk itu mengajak kepada perbuatan maksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka kita tidak boleh mengikutinya. Karena tidak ada taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, "Tidak ada ketaatan kepada siapa pun dalam maksiat kepada Alloh, ketaatan hanyalah dalam perkara yang baik menurut syariat." (HR. Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tetapi apa yang terjadi pada kaum muslimin? Di antara mereka ada yang menentang perintah Alloh dan Rosul-Nya, menentang Al Qur'an, menentang sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam padahal dalil tersebut sudah jelas bagi mereka. Mereka lebih memilih pendapat pemimpin golongan mereka, orang yang mereka anggap sebagai wali, pendapat Pak Kyai atau orang alim meskipun jelas-jelas pendapat tersebut bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sampai-sampai mereka menghalalkan sesuatu yang Alloh Ta'ala haramkan, dan mengharamkan sesuatu yang Alloh Ta'ala halalkan demi mengikuti pendapat seseorang. Karena inilah mereka telah menjadikan tuhan-tuhan selain Alloh Ta'ala. Alloh Ta'ala berfirman yang artinya, "Mereka jadikan orang-orang alim dan rahib-rahib(pendta-pendeta) mereka sebagai Tuhan selain Alloh." (At Taubah: 31)&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kami Tidak Menyembah Mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketika mendengar ayat ini dari Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, sahabat Adi bin Hatim rodhiyallohu 'anhu yang dulu beragama nasrani berkata, "Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka". Kemudian Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam berkata, "Bukankah mereka mengharamkan yang Alloh halalkan kemudian kalian ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan yang Alloh haramkan kemudian kalian ikut menghalalkannya?" Kemudian sahabat Adi bin Hatim rodhiyallohu 'anhu menjawab, "Ya!" Rosululloh berkata, "Itulah bentuk peribadatan kalian kepada mereka." (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Inilah yang disebut syirik dalam ketaatan. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad At-Tamimy rohimahulloh Ta'ala memasukan hadits di atas dalam Kitab Tauhid karya beliau pada bab: Barang siapa yang menaati ulama dan pemimpin dalam mengharamkan yang dihalalkan oleh Alloh dan menghalalkan yang diharamkan oleh Alloh, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan-tuhan selain Alloh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Marah Karena Alloh Ta'ala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma berkata, "Hujan batu dari langit akan segera menimpa kalian. Aku katakan, 'Rosululloh berkata demikian-demikian', namun kalian mengatakan, 'Abu Bakar dan Umar berkata demikian'.” Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma marah karena ada yang menentang perkataan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dengan perkataan Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu 'anhuma. Padahal Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam menginformasikan bahwa mereka berdua termasuk penghuni surga, bahkan Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu 'anhuma adalah orang yang paling utama di antara umat ini dan orang yang pendapat-pendapatnya lebih mendekati kebenaran. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian mentaati Abu Bakar dan Umar, kalian akan mendapat petunjuk." (HR Muslim). Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Kalian wajib mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Abi Hatim, shohih)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi apabila ada yang menentang perkataan atau hadits Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dengan perkataan Abu Bakar dan Umar saja terlarang, bagaimana lagi jika menentang hadits Rosululloh dengan pendapat atau perkataan selain mereka berdua? Tentunya lebih terlarang lagi. (Lihat Al Qoulul Mufid 2/88-89).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perkataan Ulama' Tentang Menentang Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;1. Imam Abu Hanifah rohimahullohu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   1. "Tidak halal bagi seorang pun untuk mengambil perkataan kami jika dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   2. "Jika saya menyampaikan perkataan yang bertentangan dengan Kitabulloh dan hadits Rosululloh, maka tinggalkanlah perkataanku".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2. Imam Malik rohimahullohu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   1. "Sesungguhnya saya hanyalah manusia, kadang salah dan kadang benar, maka telitilah pendapatku. Yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ambillah dan yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah tinggalkanlah".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   2. "Pendapat semua orang dapat diterima atau ditolak kecuali perkataan Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3. Imam Syafi'i rohimahullohu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   1. "Jika suatu hadits itu shohih, maka itulah pendapatku".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   2. "Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa jika ada yang mengetahui hadits Rosululloh, maka dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti pendapat seseorang".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Imam Ahmad rohimahullohu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   1. "Janganlah engkau mengekor kepadaku, Malik, Syafi'i, Auza'i, dan Ats-Tsaury. Ambillah dari sumber mereka mengambil".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;   2. "Barang siapa menolak hadits Rosululloh maka dia dalam jurang kehancuran". (Lihat Sifat Sholat Nabi hal 47-53).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Demikianlah perkataan para ulama yang melarang kita menentang hadits Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dengan pendapat seseorang. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk memperhatikan hal ini. Hanya kepada Alloh Ta'ala kita memohon supaya kita termasuk orang-orang yang selalu mendahulukan perkataan Alloh dan Rosul-Nya dari pada perkataan manusia, dan menjadikan kita selalu berpegang teguh dengan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam. Wallohul Musta'an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tingkat pembahasan: Dasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penulis: Abul Abbas didik Suyadi&lt;br /&gt;sorce :www.muslim.or.id&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-3410993519012931918?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/3410993519012931918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=3410993519012931918&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3410993519012931918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3410993519012931918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/menjadikan-kyai-sebagai-sesembahan.html' title='Menjadikan Kyai Sebagai Sesembahan Selain Allah'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4656024819484571007</id><published>2007-12-27T15:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:45:26.997-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[1]. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan : “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yng bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, misalnya, “Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan meyebut selain Allah adalah haram, dan dilarang berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma Allah atau lebih baik diam saja”[1]&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Imam Syafi’i beralasan bahwa asma’-asma’ Allah itu bukan makhluk, karenanya siapa yang bersumpah dengan menyebut asma’ Allah, kemudian ia melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat.”[2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[2]. Imam Ibn al-Qayyim menuturkan dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy, sebuah riwayat dari Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: “Berbicara tentang Sunnah yang menjadi pegangan saya, shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allakh, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah adalah di atas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat kapan saja Allah berkehendak.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[3]. Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya: “Apabila ada orang yang mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada dalam hati saya, maka itu adalah Imam Syafi’i.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendebat di depan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa yang sebenarnya yang ada pada diri Anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya: “Tahukah kamu, di mana kamu sekarang?” Saya menjawab, “Ya”. Beliau berkata, “Ini adalah tempat di mana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan masalah itu?”, Tanya beliau lagi. “Tidak pernah”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang di langit?”, Tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahujenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang itu diciptakan?”, Tanya beliau. “Tidak tahu”, jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkin kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mngakhiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkanmasalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapikamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah ketika hal itu berbisik dalam hatimu. Kembali saja kepada firman Allah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Artinya : Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang Naha satu. Tidak ada Tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (gersang) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan Allah)bagi orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah : 163-164]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Karenanya”, lanjut Imam Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamumemaks-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapaioleh akalmu.”[3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[4]. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, katanya: “Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlaianan dngan apa yang diberi nama, sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir zindiq.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[5]. Dalam kitabnya ar-Risalah, Imam Syafi’i berkata: “Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati oleh makhluk-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[6]. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau: “Kita menerapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk_nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firman-Nya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Artinya : Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia.” [Asy-Syura : 11] [4]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[7]. Imam ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, saya mendengar Imam Syafi’i berkata tentang firman Allah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Artinya ; Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (Hari Kiamat) benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan merek.” [Al-Muthaffifin : 15]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ayat ini memberitahu kita bahwa pada Hari Kiamat nanti ada orang-orang yang tidak terhalang, mereka dapat melihat Allah dengan jelas.” [5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[8]. Imam al-Lalaka’i menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya: “saya dating ke rumah Imam Syafi’i, ketika itu ada sebuah pertanyaan kepada beliau: “Apakah pendapat anda tentang firman Allah dalam surat al-Muthaffifin ayat 15, yang artinya, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (Hari Kiamat) benar-benar erhalanga dari (melihat) Tuhannya?.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Imam Syafi’i menjawab, “Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat Allah karena dimurkai Allah, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhai Allah akan dapat melihat-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ar-Rabi’ lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apakah anda berpendapat seperti itu?. “Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada Allah”, begitu jawab Imam Syafi’i.[6]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sabtu, 24 Februari 2007 10:19:02 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;PENDAPAT IMAM SYAFI'I TENTANG TAUHID&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4656024819484571007?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4656024819484571007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4656024819484571007&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4656024819484571007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4656024819484571007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/pendapat-imam-syafii-tentang-tauhid.html' title='Pendapat Imam Syafi’i Tentang Tauhid'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-6591446960065858567</id><published>2007-12-11T06:20:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T02:03:30.808-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Bid'ah Dan Niat Baik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika sebagian orang melakukan bid’ah, mereka beralasan bahwa amal mereka dilakukan dengan niat yang baik, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Artinya : Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” [Muttafaq Alaihi]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk membentangkan sejauh mana tingkat kebenaran cara mereka menyimpulkan dalil dan beberapa alasan yang mereka kemukakan tersebut, kami kemukakan bahwa kewajiban seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya serta hendak mengamalkannya adalah tidak boleh menggunakan sebagian dalil hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan adalah memperhatiakn semua dalil secara umum hingga hukumnya lebih dekat kepada kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan bila dia termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tetapi bila dia orang awam atau pandai dalam keilmuan kontemporer yang bukan ilmu-ilmu syari’at, maka dia tidak boleh coba-coba memasuki kepadanya, seperti kata pepatah : “Ini bukan sarangmu maka berjalanlah kamu!”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Adapun yang benar dalam masalah yang penting ini, bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesunnguhnya segala amal tergantung pada niat” adalah sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal, yaitu ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga yang selain Allah tidak meretas ke dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Adapun pilar kedua adalah, bahwa setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak”. Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang untuk merealisasikan dalam setiap pekerjaan dan ucapannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut adalah sebagai pedoman agama, baik yang pokok maupun cabang, juga yang lahir dan yang batin. Dimana hadits : “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak” sebagai tolak ukur lahiriah setiap amal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dengan demikian, maka kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap amal yang benar adalah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang keduanya merupakan syarat setiap ucapan dan amal yang lahir maupun yang batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oleh karena itu, siapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam, maka amalnya diterima, dan siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya tertolak. [1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dan demikian itulah yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh ketika menafsirkan firman Allah : “Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” [2] Beliau berkata, ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah” [3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata [4], “Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia seperti ingin dipuji manusia atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang dicintai secara cepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan cepat ? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian kepada Allah dan mencari kecintaan-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah, ataukah karena kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai syari’at Allah yang disampaikan Rasul-Nya? Ataukah pekerjaan itu tidak disyari’atkan Allah dan tidak diridhai-Nya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal, sedangkan yang kedua tentang mengikuti Sunnah. Sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali memenuhi kedua syarat tersebut. Maka agar selamat dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan. Sedang agar selamat dari pertanyaan kedua adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengerjakan setiap amal. Jadi amal yang diterima adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi dengan mengikuti Sunnah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ibnu Katsir dalam tafsirnya (I/231) berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria : takwa kepada Allah, niat baik dan tepat (sesuai sunnah)” [5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kesimpulannya, bahwa sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamn, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” itu maksudnya, bahwa segala amal dapat berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan sengaja, itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya. [6]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Atas dasar ini, maka seseorang tidak dibenarkan sama sekali menggunakan hadits tersebut sebagai dalil pembenaran amal yang batil dan bid’ah karena semata-mata niat baik orang yang melakukannya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dan penjelasan yang lain adalah, bahwa hadits tersebut sebagai dalil atas kebenaran amal dan keikhlasan ketika melakukannya, yaitu dengan pengertian, “Sesungguhnya segala amal yang shalih adalah dengan niat yang shalih”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pemahaman seperti ini sepenuhnya tepat dengan kaidah ilmiah dalam hal mengetahui ibadah dan hal-hal yang membatalkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dan diantara yang menguatkan bahwa diterimanya amal bukan hanya karena niat baik orang yang melakukannya saja, tetapi harus pula sesuai dengan Sunnah adalah hadits sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Artinya : Bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Tetapi katakanlah : “Apa yang dikehendaki Allah semata” [7]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Niat baik dan keikhlasan hati sahabat yang agung ini tidak diragukan. Tetapi ketika ucapan yang keluar darinya bertolak belakang dengan manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam akidah dan bertutur kata, maka Rasulullah mengingkari seraya mengingatkan kesalahannya dan menjelaskan yang benar tanpa melihat niatnya yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadits tersebut [8] adalah pokok dalil dalam sub kajian ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah Fi Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;__________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[1]. Bahjah Qulub Al-Abrar : 10 Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[2]. Al-Mulk : 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[3]. Hilyatu Auliya : VIII/95, Abu Nu’aim. Dan lihat Tafsir Al-Baghawi V/419, Jami’ul Al-Ulum wal Hikam : 10 dan Madarij As-Salikin I/83&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[4]. Mawarid Al-Aman Al-Muntaqa min Ighatshah Al-Lahfan : 35&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[5]. Jami Al-Ulum wal Hikam : 10&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[6]. Lihat Fathul bari : I/13 dan Umdah Al-Qari : I/25&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[7]. Hadits hasan, lihat takhrijnya dalam risalah saya : At-tasfiyah wat-tarbiyyah : 61&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;[8]. Dan hadist lain yang seperti itu masih banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bid'ah Dan Niat Baik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Senin, 4 Juni 2007 01:24:37 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;BID’AH DAN NIAT BAIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-6591446960065858567?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/6591446960065858567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=6591446960065858567&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/6591446960065858567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/6591446960065858567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/bidah-dan-niat-baik.html' title='Bid&apos;ah Dan Niat Baik'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4227686520995014958</id><published>2007-12-06T06:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T05:45:04.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Antara Adat Dan Ibadah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini adalah sub kajian yang sangat penting yang membantah anggapan orang yang dangkal akal dan ilmunya, jika bid’ah atau ibadah yang mereka buat diingkari dan dikritik, sedang mereka mengira melakukan kebaikan, maka mereka menjawab : “Demikian ini bid’ah ! Kalau begitu, mobil bid’ah, listrik bid’ah, dan jam bid’ah!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagian orang yang memperoleh sedikit dari ilmu fiqih terkadang merasa lebih pandai daripada ulama Ahli Sunnah dan orang-orang yang mengikuti As-Sunnah dengan mengatakan kepada mereka sebagai pengingkaran atas teguran mereka yang mengatakan bahwa amal yang baru yang dia lakukan itu bid’ah seraya dia menyatakan bahwa “asal segala sesuatu adalah diperbolehkan”.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fulpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ungkapan seperti itu tidak keluar dari mereka melainkan karena kebodohannya tentang kaidah pembedaan antara adat dan ibadah. Sesungguhnya kaidah terseubut berkisar pada dua hadits.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pertama : Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Artinya : Barangsiapa melakukan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada di dalamnya, maka amal itu tertolak”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hadits ini telah disebutkan takhrij dan syarahnya secara panjang lebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kedua : Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Artinya : Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366) dimasukkan ke dalam bab dengan judul : “Bab Wajib Mengikuti Perkataan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Dalam Masalah Syari’at Dan Yang Disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Tentang Kehidupan Dunia Berdasarkan Pendapat”, dan ini merupakan penyusunan bab yang sangat cermat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Atas dasar ini maka sesungguhnya penghalalan dan pengharaman, penentuan syari’at, bentuk-bentuk ibadah dan penjelasan jumlah, cara dan waktu-waktunya, serta meletakkan kaidah-kaidah umum dalam muamalah adalah hanya hak Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada hak bagi ulil amri [1] di dalamnya. Sedangkan kita dan mereka dalam hal tersebut adalah sama. Maka kita tidak boleh merujuk kepada mereka jika terjadi perselisihan. Tetapi kita harus mengembalikan semua itu kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Adapun tentang bentuk-bentuk urusan dunia maka mereka lebih mengetahui daripada kita. Seperti para ahli pertanian lebih mengetahui tentang apa yang lebih maslahat dalam mengembangkan pertanian. Maka jika mereka mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan pertanian, umat wajib mentaatinya dalam hal tersebut. Para ahli perdagangan ditaati dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan perdagangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya mengembalikan sesuatu kepada orang-orang yang berwenang dalam kemaslahatan umum adalah seperti merujuk kepada dokter dalam mengetahui makanan yang berbahaya untuk dihindari dan yang bermanfaat darinya untuk dijadikan santapan. Ini tidak berarti bahwa dokter adalah yang menghalalkan makanan yang manfaat atau mengharamkan makanan yang mudharat. Tetapi sesungguhnya dokter hanya sebatas sebagai pembimbing sedang yang menghalalkan dan mengharamkan adalah yang menentukan syari’at (Allah dan Rsul-Nya), firmanNya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk” [Al-Araf : 157] [2].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian anda mengetahui bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan tertolak. Adapun bid’ah dalam masalah dunia maka tiada larangan di dalamnya selama tidak bertentangan dengan landasan yang telah ditetapkan dalam agama [3]. Jadi, Allah membolehkan anda membuat apa yang anda mau dalam urusan dunia dan cara berproduksi yang anda mau. Tetapi anda harus memperhatikan kaidah keadilan dan menangkal bentuk-bentuk mafsadah serta mendatangkan bentuk-bentuk maslahat.” [4]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Adapun kaidah dalam hal ini menurut ulama sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah [5] adalah : “Sesungguhnya amal-amal manusia terbagi kepada : Pertama, ibadah yang mereka jadikan sebagai agama, yang bermanfaat bagi mereka di akhirat atau bermanfaat di dunia dan akhirat. Kedua, adat yang bermanfaat dalam kehidupan mereka. Adapun kaidah dalam hukum adalah asal dalam bentuk-bentuk ibadah tidak disyari’atkan kecuali apa yang telah disyariatkan Allah. Sedangkan hukum asal dalam adat [6] adalah tidak dilarang kecuali apa yang dilarang Allah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari keterangan diatas tampak dengan jelas bahwa tidak ada bid’ah dalam masalah adat, produksi dan segala sarana kehidupan umum”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut dalam kitabnya yang sangat bagus, Al-Bid’ah Asabbuha wa Madharruha (hal. 12 –dengan tahqiq saya), dan saya telah mengomentarinya sebagai berikut, “Hal-hal tersebut tiada kaitannya dengan hakikat ibadah. Tetapi hal tersebut harus diperhatikan dari sisi dasarnya, apakah dia bertentangan dengan hukum-hukum syari’at ataukah masuk di dalamnya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di sini terdapat keterangan yang sangat cermat yang diisyaratkan oleh Imam Syathibi dalam kajian yang panjang dalam Al-I’tisham (II/73-98) yang pada bagian akhirnya disebutkan, “Sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan adat jika dilihat dari sisi adatnya, maka tidak ada bid’ah di dalamnya. Tetapi jika adat dijadikan sebagai ibadah atau diletakkan pada tempat ibadah maka ia menjadi bid’ah”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian maka “tidak setiap yang belum ada pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga belum ada pada masa Khulafa Rasyidin dinamakan bid’ah. Sebab setiap ilmu yang baru dan bermanfaat bagi manusia wajib dipelajari oleh sebagian kaum muslimin agar menjadi kekuatan mereka dan dapat meningkatkan eksistensi umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya bid’ah adalah sesuatu yang baru dibuat oleh manusia dalam bentuk-bentuk ibadah saja. Sedangkan yang bukan dalam masalah ibadah dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’at maka bukan bid’ah sama sekali” [7]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah (hal. 22) berkata, “ Adapun adat adalah sesuatu yang bisa dilakukan manusia dalam urusan dunia yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, dan hukum asal pada masalah tersebut adalah tidak terlarang. Maka tidak boleh ada yang dilarang kecuali apa yang dilarang Allah. Karena sesungguhnya memerintah dan melarang adalah hak prerogratif Allah. Maka ibadah harus berdasarkan perintah. Lalu bagaimana sesuatu yang tidak diperintahkan di hukumi sebagai hal yang dilarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh karena itu, Imam Ahmad dan ulama fiqh ahli hadits lainnya mengatakan, bahwa hukum asal dalam ibadah adalah tauqifi (berdasarkan dalil). Maka, ibadah tidak disyariatkan kecuali dengan ketentuan Allah, sedang jika tidak ada ketentuan dari-Nya maka pelakunya termasuk orang dalam firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Artinya : Apakah mereka mempunyai para sekutu yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak dizinkan Allah?” [Asy-Syuraa : 21]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sedangkan hukum asal dalam masalah adat adalah dimaafkan (boleh). Maka, tidak boleh dilarang kecuali yang diharamkan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Artinya : Katakanlah. Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. ‘Katakanlah, ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [Yunus : 59]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini adalah kaidah besar yang sangat berguna. [8]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yusuf Al-Qaradhawi dalam Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.21)berkata, “Adapun adat dan muamalah, maka bukan Allah pencetusnya, tetapi manusialah yang mencetuskan dan berinteraksi dengannya, sedang Allah datang membetulkan, meluruskan dan membina serta menetapkannya pada suatu waktu dalam hal-hal yang tidak mendung mafsadat dan mudharat”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan mengetahui kaidah ini [9], maka akan tampak cara menetapkan hukum-hukum terhadap berbagai kejadian baru, sehingga tidak akan berbaur antara adat dan ibadah dan tidak ada kesamaran bid’ah dengan penemuan-penemuan baru pada masa sekarang. Dimana masing-masing mempunyai bentuk sendiri-sendiri dan masing-masing ada hukumnya secara mandiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah Fi Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;__________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[1]. Maksudnya ulama dan umara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[2]. Ushul fil Bida’ was Sunan : 94&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[3]. Ini batasan yang sangat penting, maka hendaklah selalu mengingatnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[4]. Ushul fil Bida’ was Sunan : 106&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[5]. Al-Iqtidha II/582&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[6]. Lihat Al-I’tiham I/37 oleh Asy-Syatibi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[7]..Dari ta’liq Syaikh Ahmad Syakir tentang kitab Ar-Raudhah An-Nadiyah I/27&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[8]. Sungguh Abdullah Al-Ghumari dalam kitabnya “Husnu At-Tafahhum wad Darki” hal. 151 telah mencampuradukkan kaidah ini dengan sangat buruk, karena menganggap setiap sesuatu yang tidak terdapat larangannya yang menyatakan haram atau makruh, maka hukum asal untuknya adalah dipebolehkan. Dimana dia tidak merincikan antara adat dan ibadah. Dan dengan itu, maka dia telah membantah pendapatnya sendiri yang juga disebutkan dalam kitabnya tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[9]. Lihat Al-Muwafaqat II/305-315, karena di sana terdapat kajian penting dan panjang lebar yang melengkapi apa yang ada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ANTARA ADAT DAN IBADAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selasa, 5 Juni 2007 01:17:04 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4227686520995014958?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4227686520995014958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4227686520995014958&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4227686520995014958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4227686520995014958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/antara-adat-dan-ibadah.html' title='Antara Adat Dan Ibadah'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-8355157927441428511</id><published>2007-12-06T06:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T02:02:02.168-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah dan Syirik'/><title type='text'>Akhir Kesudahan Ahli Bid'ah</title><content type='html'>Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu 'anhu memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang Syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu Syaikh tersebut menyuruh mereka (yang duduk di halaqah) : “Bertasbihlah (ucapkan subhanallah) seratus kali!”, lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu Syaikh itu berkata kepada mereka lagi : “Bertahmidlah (ucapkan alhamdulillah) seratus kali!” dan demikianlah seterusnya ……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Musa Radhiyallahu 'anhu mengingkari hal itu dalam hatinya dan ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Abu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berkatalah Abu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun?!” Abu Musa pun menjawab : “ Aku tidak memerintahkan suatu apapun kepada mereka”. Berkatalah Abu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud :“Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad?” mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Abu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan? Mereka pun menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Amru bin Salamah : “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Syaikh Musa Nasr) berkata : “Firasat Ibnu Mas’ud terhadap mereka (yaitu ahli bid’ah yang mengadakan halaqah dzikir) benar, dimana ahli bid’ah itu bergabung bersama kaum khawarij disebabkan “terus menerusnya” mereka dalam kebid’ahan. Dan inilah akhir kesudahan seseorang yang “terus menerus” dalam kebid’ahannya, serta menyelisihi para sahabat nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mungkin seseorang di zaman kita berkata : “Apakah yang diingkari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu? Apakah berdzikir kepada Allah itu bid’ah?!! Kita katakan : “Maha suci Allah, jika dikatakan dzikir kepada-Nya adalah bid’ah, khususnya jika dzikir itu adalah dzikir yang disyariatkan, tetapi yang bid’ah hanyalah cara (berdzikir) dimana mereka berkumpul padanya, serta cara yang mereka lakukan dalam berdzikir kepada Allah, dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahanbat beliau tidak pernah mengamalkannya. Dan khawarij yang dicela oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika aku menjumpai mereka, niscaya benar-benar akan aku bunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum Ad” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanyalah Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam mengancam mereka dikarenakan perbuatan mereka yang bid’ah dan mungkar, yaitu : mereka mengkafirkan kaum muslimin lantaran perbuatan maksiyat, dan mereka menganggap kaum muslimin masuk neraka kekal (lantaran perbuatan maksiat) padahal (yang benar) pelaku dosa besar tidak kekal dalam neraka. Sebagaimana juga mereka mewajibkan bagi perempuan yang haid untuk mengganti shalat (yang ia tinggalkan ketika haid) sebagaimana ia mengganti puasa (Ramadhan jika ia haid pada waktu itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mereka berbuat melampaui batas dalam agama mereka, dan mereka beramal dengan sangat membebani diri, bahkan mereka (yaitu khawari) telah khuruj (keluar) dari ketaatan kepada anak paman Rasulullah, menantu beliau Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 'anhu (ketika menjadi khalifah) bahkan mereka bunuh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 'anhu secara dhalim dan kedustaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi kita Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah menahan taubat dari setiap ahli bid’ah hingga ia bertaubat dari kebid’ahannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan lisan keadaan ahli bid’ah berkata : “Ini adalah agama Muhammad bin Abdullah”. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Imam Malik, dimana ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsapa berbuat suatu kebid’ahan dalam agama Islam yang ia pandang baik maka sungguh ia menyangka bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Al Maidah 3). Maka apa saja yang pada waktu itu bukan agama tidaklah pada hari ini dianggap sebagai agama, dan tidak akan baik akhir umat ini melainkan dengan apa yang baik pada umat yang awal (para sahabat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku bid’ah diharamkan dari minum seteguk air yang nikmat dari tangannya Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dan dari telaganya yang mana telaga itu lebih putih dari salju dan lebih manis daripada madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh telah benar dari hadits Anas Radhiyallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demikianlah kesudahan akhir ahli bid’ah baik pada masa lampau atau masa sekarang, (Semoga Allah melindungi kita dari akhir kematiaan buruk seperti mereka). Maka apakah sadar mereka para ahli bid’ah pada setiap zaman dan tempat pada buruknya tempat kembali mereka? Maka hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat “nasuha” (taubat yang murni), kita mengharapkan bagi mereka yang demikian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya Allah saja Dzat yang memberi petunjuk kepada jalan untuk ittiba’ (mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diterjemahkan dari majalah al Ashalah edisi 27 halaman 17-18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th. II/No. 07 Diterbitkan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR KESUDAHAN AHLI BID’AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Minggu, 18 Nopember 2007 04:33:35 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Musa An-Nasr&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-8355157927441428511?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/8355157927441428511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=8355157927441428511&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/8355157927441428511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/8355157927441428511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/akhir-kesudahan-ahli-bidah.html' title='Akhir Kesudahan Ahli Bid&apos;ah'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-3010149777061041886</id><published>2007-12-04T06:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:45:50.034-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>KEDUDUKAN HADITS “TUJUH PULUH TIGA GOLONGAN UMMAT ISLAM”</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt; MUQADDIMAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar&lt;span class="fullpost"&gt; adalah hadits yang berbunyi bahwa tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang masuk Surga’ disebabkan tiga hal:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 2. Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya; satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan batas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 3. Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau minimal menjadi separuh penghuni Surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dalam tulisan ini, insya Allah, saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya dari hadits tersebut, serta penjelasannya dari para ulama Ahli Hadits, sehingga dengan demikian akan hilang ke-musykil-an yang ada, baik dari segi sanadnya maupun maknanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMMAT ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 11. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 12. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 13. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 14. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; HADITS PERTAMA: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Úóäú ÃóÈöíú åõÑóíúÑóÉó ÞóÇáó: ÞóÇáó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááøåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó: ÇöÝúÊóÑóÞó ÇáúíóåõæúÏõ Úóáóì ÅöÍúÏóì Ãóæú ËöäúÊóíúäö æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð¡ æóÊóÝóÑøóÞóÊö ÇáäøóÕóÇÑóì Úóáóì ÅöÍúÏóì Ãóæú ËöäúÊóíúäö æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð æóÊóÝúÊóÑöÞõ ÃõãøóÊöíú Úóáóì ËóáÇóËò æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits ini diriwayatkan oleh:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi VII/397-398.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 4. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad II/332, tanpa me-nyebutkan kata “Nashara.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 5. Al-Hakim, dalam kitabnya al-Mustadrak, Kitabul Iman I/6, dan ia berkata: “Hadits ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 6. Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawaariduzh Zhamaan, 31-Kitabul Fitan, 4-Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 7. Abu Ya’la al-Maushiliy, dalam kitabnya al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut).  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 8. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya as-Sunnah, 19-Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- anna Ummatahu Sataftariqu, I/33, no. 66.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 9. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraaqil Umam fii Diiniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah? I/374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 10. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fii Diinihi, I/306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiiji. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Perawi Hadits:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; a. Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; •  Imam Abu Hatim berkata: “Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia adalah seorang Syaikh (guru).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; • Imam an-Nasa-i berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; • Imam adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Syaikh yang terkenal dan hasan haditsnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia se-orang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu VIII/30-31, Mizaanul I’tidal III/ 673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib IX/333-334, Taqribut Tahdzib II/119 no. 6208.) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; b. Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah ber-kata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (Lihat Tahdzibut Tahdzib XII/115, Taqribut Tahdzib II/409 no. 8177.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Derajat Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul ‘Ilmi I/128.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab al-I’tisham (II/189).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih at-Tirmidzi no. 2128.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; HADITS KEDUA: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Úóäú ÃóÈöíú ÚóÇãöÑò ÇáúåóæúÒóäöíøö ÚóÈúÏö Çááåö Èúäö áõÍóíøö Úóäú ãõÚóÇæöíóÉó Èúäö ÃóÈöíú ÓõÝúíóÇäó Ãóäøóåõ ÞóÇãó ÝöíúäóÇ ÝóÞóÇáó: ÃóáÇó Åöäøó ÑóÓõæúáó Çááåö Õóáøóì Çááøåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó ÞóÇãó ÝöíúäóÇ ÝóÞóÇáó: ÃóóáÇó Åöäøó ãóäú ÞóÈúáóßõãú ãöäú Ãóåúáö ÇáúßöÊóÇÈö ÇöÝúÊóÑóÞõæúÇ Úóáóì ËöäúÊóíúäö æóÓóÈúÚöíúäó ãöáøóÉð æóÅöäøó åóÐöåö ÇáúãöáøóÉó ÓóÊóÝúÊóÑöÞõ Úóáóì ËóáÇóËò æóÓóÈúÚöíúäó. ËöäúÊóÇäö æóÓóÈúÚõæúäó Ýöí ÇáäøóÇÑö æóæóÇÍöÏóÉñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æóåöíó ÇáúÌóãóÇÚóÉõ .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits ini diriwayatkan oleh:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Perawi Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; •  Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; • Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; • Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Derajat Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; HADITS KETIGA:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits ‘Auf bin Malik:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Úóäú ÚóæúÝö Èúäö ãóÇáößò ÞóÇáó: ÞóÇáó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááøåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó: ÇöÝúÊóÑóÞóÊö ÇáúíóåõæúÏõ Úóáóì ÅöÍúÏóì æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð ÝóæóÇÍöÏóÉñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æóÓóÈúÚõæúäó Ýöí ÇáäøóÇÑö æóÇÝúÊóÑóÞóÊö ÇáäøóÕóÇÑóì Úóáóì ËöäúÊóíúäö æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð ÝóÅöÍúÏóì æóÓóÈúÚõæúäó Ýöí ÇáäøóÇÑö æóæóÇÍöÏóÉñ Ýöí ÇáúÌóäøóÉö æóÇáøóÐöíú äóÝúÓõ ãõÍóãøóÏò ÈöíóÏöåö áóÊóÝúÊóÑöÞóäøó ÃõãøóÊöíú Úóáóì ËóáÇóËò æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð æóÇÍöÏóÉñ Ýöíú ÇáúÌóäøóÉö æóËöäúÊóÇäö æóÓóÈúÚõæúäó Ýöíú ÇáäøóÇÑö¡ Þöíúáó: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö ãóäú åõãú¿ ÞóÇáó: ÇáúÌóãóÇÚóÉõ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Keterangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits ini telah diriwayatkan oleh:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; 3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Perawi Hadits:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang tsiqah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya).” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib I/470 no. 3165.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.”  (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.”  (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib I/289 no. 1859.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Derajat Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; HADITS KEEMPAT: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Lafazh-nya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Úóäú ÃóäóÓö Èúäö ãóÇáößò ÞóÇáó: ÞóÇáó ÑóÓõæúáõ Çááåö Õóáøóì Çááøåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó: Åöäøó Èóäöíú ÅöÓúÑóÇÆöíúáó ÇöÝúÊóÑóÞóÊú Úóáóì ÅöÍúÏóì æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð æóÅöäøó ÃõãøóÊöíú ÓóÊóÝúÊóÑöÞõ Úóáóì ËöäúÊóíúäö æóÓóÈúÚöíúäó ÝöÑúÞóÉð ßõáøõåóÇ Ýöí ÇáäøóÇÑö ÅöáÇøó æóÇÍöÏóÉðº æóåöíó ÇáúÌóãóÇÚóÉõ .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no. 3227.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; (Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/360-361)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-3010149777061041886?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/3010149777061041886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=3010149777061041886&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3010149777061041886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/3010149777061041886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga.html' title='KEDUDUKAN HADITS “TUJUH PULUH TIGA GOLONGAN UMMAT ISLAM”'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4271064233435979707</id><published>2007-12-02T03:44:00.000-08:00</published><updated>2007-12-03T00:19:56.100-08:00</updated><title type='text'>AHLUS SUNNAH DAN TERORISME</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah. Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya[1]. Namun demikian, tidak boleh seorang Salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau akhlak para shahabatnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dakwah salafiyah berdiri di atas aqidah yang benar, aqidah yang Rasulullah dan para sahabatnya berkeyakinan dengannya. Dakwah salafiyah tegak diatas manhaj (jalan, metode, tata cara) Islam yang benar dan lurus, berdiri diatas dalil. Dakwah ini benar-benar mengagungkan As-Salaf Ash-Shalih (generasi terdahulu yang shalih), dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Dakwah ini mengagungkan dan menghormati dalil, (berupa) firman Allah dan (sabda) Rasulnya, tidak mengutamakan dan mengedepankan perkataan siapapun (di atas perkataan Allah dan rasulNya), betapapun tinggi derajat dan kedudukannya orang itu. Dakwah salafiyah menyeru kepada Allah, kepada ajaran Islam yang benar, seimbang dan adil. Menyeru kepada kelemah lembutan dan menolak kekerasan. Maka menuduh dakwah salafiyah sebagai terorisme adalalah dusta!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Karena, siapakah yang benar-benar menentang para teroris dan takfiriyin (orang-orang yang sangat mudah mengkafirkan orang lain tanpa sebab yang haq) saat ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Siapakah mereka kalau bukan ulama dakwah salafiyah ? Mereka, yang pada zaman ini dikenal sangat gigih membela dan berdakwah dengan dakwah salafiyah ini. Yang paling dikenal di antara mereka, seperti Al-Imam Al-Muhaddist Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, kemudian Asy-Syaikh Al’Allaamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Asy-Syaikh Al-Allaamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Kemudian murid-murid Al-Imam Al-Muhaddist Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan murid-murid mereka semua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Merakalah yang jelas-jelas nyata paling menentang dan membantah pemikiran terorisme ini, baik dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab mereka, kaset-kaset kajian ilmiah mereka, dan dari seputar kajian-kajian ilmiah mereka secara langsung. Hal ini diketahui oleh setiap munshif (orang yang adil dalam menghukum).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Adapun mukabir (orang yang sombong dan keras kepala) dan orang yang mendustakan kenyataan mereka semua, maka sesungguhnya dia merupakan generasi (pelanjut) dari tokoh-tokoh (penentang) terdahulu, (yaitu orang-orang) yang menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, orang gila, pemalsu dan pembuat Al-Qur’an, pendusta. Mereka hanya menuduh, menuduh dan terus menuduh (tanpa haq dan bukti yang benar).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Namun inilah taqdir para nabi, mereka selalu didustakan oleh sebagian umatnya. Allah berfirman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Artinya : Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” [Al-An’am : 34]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh karena itu, demikianlah keadaan para da’i yang berdakwah kepada Allah, keadaan para penuntut ilmu agama. Mereka akan selalu mendapatkan halangan dan rintangan serta hambatan dari orang-orang sesat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah. Mereka akan disakiti oleh para penentang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, (mereka) tidak pernah berhenti melancarkan usaha-usaha keji ( yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian dan permusuhan di kalangan masyarakat, sehingga para da’i yang ikhlas berdakwah kepada Allah dan para penuntut ilmu agama, (mereka) akan selalu mendapatkan rintangan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Ada dua pondok pesantren yang bermanhaj salaf di sebuah pulau. Setelah para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah ini mengetahui keberadaan dua pondok pesantren ini, mereka segera menghasut masyarakat setempat, dan akhirnya merekapun berhasil menghancurkan dan memporakporandakan ke dua pondok pesantren ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Tidak ada yang memicu mereka untuk melakukan tindakan keji ini, melainkan hasad, dengki dan kebencian yang membakar dada-dada mereka terhadap para da’i dari penuntut ilmu agama yang benar dan lurus. Demikianlah, karena orang sesat memang tidak akan pernah mencintai kebenaran dan ahlinya!.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Betatpapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf, pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha berbuat madharat terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Artinya : Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al-haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mempedulikan mereka) sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian” [2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dan golongan ini, para ulama telah menafsirkan, bahwa mereka adalah ahlul hadits dan ahlul atsar (yaitu orang-orang yang konsisten mengikuti hadits-hadits dan jejak para As-Salaf Ash-Shalih).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Maka, saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi. Saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi [3]. Hendaknya setiap muslim bermanhaj, seperti apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebuah manhaj yang tidak berpihak kepada personal tertentu, atau kepada jama’ah-jama’ah tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; As-Salafiyah bukanlah bayi perempuan yang baru terlahir sekarang. Bukan pula sebuah organisasi yang baru didirikan saat ini. As-Salafiyah adalah ajaran yang turun dari Allah, berupa wahyu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu anha [4] tatkala ia meninggal dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Artinya : Bergabunglah bersama pendahulu kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un” [5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata (yang maknanya) : “Bukan (merupakan) aib, jika seseorang menisbatkan (menyandarkan) dirinya kepada salaf, karena manhaj salaf adalah (manhaj yang) a’lam (lebih berilmu), ahkam (lebih bijak dan berhukum), dan aslam (lebih selamat)”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Karena jika tidak demikian, bagaimana kita bisa merealisasikan : ‘Maa ana ‘alaihi wa ashhaabii’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Lihatlah ! Sekarang banyak jama’ah dengan bermacam-macam pola mereka, ada yang ke barat, ada yang ke timur. Semuanya mengikuti jalannya masing-masing yang berbeda-beda. Kecuali, hanya dakwah salafiyah yang diberkahi Allah ini. Golongan inilah yang tetap konsisten berpegang teguh kuat-kuat dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Oleh karena itu, saya memohon kepada Allah agar mereka –baik para da’i, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang bermanhaj salaf ini- senantiasa diberikan kemudahan dan keutamaan dariNya, dan agar mereka dijadikan olehNya generasi-generasi terbaik pewaris mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang berkenan mangabulkan do’a ini dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidaklah ada seorang yang menentang dakwah yang haq ini, melainkan Allah pasti akan mebinasakannya. Karena Allah akan selalu membela orang-orang yang beriman (yang membela agamaNya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Karenanya, seluruh model dakwah apapun (di muka bumi ini) yang berusaha menghalang-halangi, menentang, dan merintangi dakwah salafiyah, usaha mereka pasti sia-sia dan gagal. Bahkan yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan penyesalan. Sedangkan Allah senantiasa membela dan menolong dakwah salafiyah ini, karena Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela agamaNya, sebagaimana firmanNya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al-Hajj : 40]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Demikianlah, akhirya saya cukupkan jawaban saya sampai di sini. Saya berharap bisa bertemu dengan kalian pada kesempatan yang lain, insya Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Diambil dari Muhadharah Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr di Masjid Al-Karim, Pabelan, Surakarta, Ahad 19 Februari 2006, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief Budiman bin Utsman Rozali]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; _________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [1]. Berdasarkan hadits Iftiraqul ummah (perpecahan umat) yang shahih dan masyhur, yang dikeluarkan oleh Abu Daud 4/197-198 no. 4597, At-Tirmidzi 5/25-26 no. 2640 dan 2641. Ahmad 2/332, 3/120 dan 145, 4/102, Ibnu Majah 2/1231-1232 no. 3991-3993 dari hadits Abu Hurairah dan Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan lain-lain yang sdi salah satu lafazh akhir hadits-haditsnya adalah. “Mereka adalah al-jama’ah” dan ‘(Yaitu) mereka seperti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah di dalam Ash-Shahihah 3/480 dan kitab-kitab beliau lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [2]. Hadits Riwayat Muslim 3/1523 no. 1920 dari hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anha, dan yang semakna dengannya diriwayatkan oleh Al-Bukhari 2/2667 no. 6881 dari hadits Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [3]. Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr memang mengulangi kata-katanya ini dua kali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [4]. Demikian yang Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr sampaikan. Mungkin yang beliau maksud adalah Ruqayah binti Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Fatimah Radhiyallahu ‘anha meninggal sekitar setengah tahun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sebagaimana yang telah diketahui dan telah banyak keterangannya di dalam kitab-kitab tarajim (biografi) para sahabat. Lihat Taqrib at Tahdzib, hal. 1367 no. 8749.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; [5]. Hadits Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 6/41 no. 5736 dan lain-lain. Hadits ini pernah diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika putri beliau Zainab meninggal, sebagaimana dalam Musnad Al-Imam Ahmad 1/237 dan 335 no. 2127 dan 3103 dan lain-lain. Juga ketika putra beliau Ibrahim meninggal sebagaimana dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 1/286 no. 837 dan lain-lain. Al-Imam Adz-Dzhahabi di dalam Siyar A’lam An-Nubala 2/252, beliau membawakan biografi Ruqayah Radhiyalahu ‘anha, beliau menghukumi hadsits ini dan berkata ‘Munkar’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Syaikh Salim bin Id Al-Hilali –hafizhahullah- di dalam kitabnya (Bashra-iru dzawi asy-Syaraf bi Marwiyati Manhaj As-Salaf) hal.18 berkata : ‘Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sabdanya kepada putri beliau Ruqayah, tatkala ia meninggal ...’ lalu beliaupun (Syaikh Salim bin Id Al-Hilali) membawakan hadits ini. Kemudian beliau komentari pada catatan kaki : ‘Dhaif, dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad 1/237 dan 335 dan Ibnu Sa’ad di dalam Ath-Thabaqat 8/37 dan hadits ini dipermasalahkan oleh syaikh kami –rahimahullah- di dalam Adh-Dha’ifah no. 1715, karena terdapat (di sanadnya) Ali bin Zaid bin Jud’an”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dan Ali bin Zaid bin Jud’an adalah perawi yang dhai’f. Lihat Taqrib at Tahdzib, hal.696 no. 4768.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Atau, mungkin yang dimaksud oleh beliau (Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nasr) adalah justru perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putri beliau Fathimah Radhiyallahu ‘anha, ketika beliau (Rasulullah) menjelang wafat. Jika ini yang dimaksud, maka haditsnya adalah muttafaq ‘alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari 5/2317 no. 5928 dan Muslim 4/1904 no. 2450 dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Artinya : Sesungguhnya aku adalah sebaik-baik pendahulu bagimu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Dan lafazh hadits ini lafazh Shahih Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4271064233435979707?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4271064233435979707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4271064233435979707&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4271064233435979707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4271064233435979707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/ahlus-sunnah-dan-terorisme.html' title='AHLUS SUNNAH DAN TERORISME'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-2226694479119471657</id><published>2007-12-02T03:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:47:11.769-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>DR. YUSUF AL-QARADHAWI DAN DEMOKRASI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dr. Yusuf al-Qaradhawi mendukung demokrasi seraya berpendapat bahwa demokrasi merupakan alternatif terbaik untuk diktatorisme dan pemerintahan tirani. Berikut ini ringkasan pendapat Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengenai demokrasi disertai dengan komentar terhadapnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: "Sesungguhnya sisi liberalisme demokrasi yang paling baik menurut saya adalah sisi politiknya, yang tercermin dalam penegakan kehidupan perwakilan, di dalamnya rakyat dapat memilih wakil-wakil mereka yang akan memerankan kekuasaan legislatif di parlemen, dan di dalam satu majelis atau dua majelis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemilihan ini hanya bisa ditempuh melalui pemilihan umum yang bebas dan umum, dan yang berhak menerima adalah yang mendapat suara paling banyak dari para calon yang berafiliasi ke partai politik atau non-partai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Kekuasaan yang terpilih" inilah yang akan memiliki otoritas legislatif untuk rakyat, sebagaimana ia juga mempunyai kekuasaan untuk mengawasi kekuasaan eksekutif atau "pemerintah", menilai, mengkritik, atau menjatuhkan mosi tidak percaya, sehingga dengan demikian, kekuasaan eksekutif tidak lagi layak untuk dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan kekuasaan yang terpilih, maka semua urusan rakyat berada di tangannya, dan dengan demikian, rakyat menjadi sumber kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bentuk ini secara teoritis cukup baik dan dapat diterima, menurut kaca mata Islam secara garis besar, jika dapat diterapkan secara benar dan tepat, serta dapat dihindari berbagai keburukan dan hal-hal negatif yang terdapat padanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya katakan "secara garis besar", karena pemikiran Islam memiliki beberapa kewaspadaan terhadap beberapa bagian tertentu dari bentuk di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kekuasaan terpilih itu tidak memiliki penetapan hukum untuk hal-hal yang tidak diizinkan oleh Allah Ta'ala. Kekuasaan ini juga tidak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal atau menggugurkan suatu kewajiban. Sebab, yang mem­punyai kekuasaan menetapkan hukum satu-satunya hanyalah Allah jalla Sya'nuhu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Manusia hanya boleh membuat hukum untuk diri mereka sendiri dalam hal yang diizinkan Allah Ta'ala saja. Artinya, hukum yang mengatur kepentingan dunia mereka yang tidak dimuat di dalam suatu nash tertentu, atau nash yang mengandung beberapa makna kemudian mereka memilih salah satu makna dan meng­gunakannya dengan memperhatikan kaidah-kaidah syari'at. Dalam hal itu terdapat medan yang sangat luas sekali bagi para pembuat undang-undang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh karena itu, harus dikatakan: "Sesungguhnya rakyat merupakan sumber kekuasaan dalam batas-batas syari'at Islam." Sebagaimana dalam Majelis Tasyri' (Badan Legislatif) harus ada komisi khusus yang dipegang oleh para ahli fiqih yang mampu mengambil kesimpulan dan melakukan ijtihad. Juga menilai ber­bagai ketetapan undang-undang, untuk mengetahui sejauh mana kesesuaiannya dan penyimpangannya dari syar'iat, walaupun sistem demokrasi sendiri tidak mensyaratkan hal tersebut, meski dalam undang-undang dinyatakan bahwa agama negara yang dianut adalah Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemudian, para calon wakil rakyat juga harus benar-benar memenuhi atau memiliki bekal yang kuat dalam agama dan akhlak serta beberapa ketentuan lainnya, misalnya keahlilan dalam bidang kepentingan umum dan lain sebagainya. Jadi, calon wakil rakyat tidak boleh dari seorang penjahat atau pemabuk atau suka mening­galkan shalat atau orang yang menganggap enteng agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di sana terdapat dua sifat yang disyaratkan Islam bagi setiap orang yang akan mengemban suatu pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pertama : Mampu mengemban pekerjaan ini dan mempunyai pengalaman di bidangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kedua : Amanah. Dengan sifat amanah inilah suatu pekerjaan akan terpelihara dan pelakunya akan takut kepada Allah Ta'ala. Itulah yang diungkapkan oleh al-Qur'an melalui lisan Yusuf as , di mana dia mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Artinya : Berkata Yusuf, jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi ber­pengetahuan. "' [Yusuf : 55]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Juga dalam kisah Musa as, melalui lisan puteri seorang yang sudah tua renta:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Artinya : Karena sesungguhnya, orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. " [Al-Qashash: 26]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian, kekuatan dan ilmu memerankan sisi intelektual dan profesional yang menjadi syarat suatu pekerjaan, sedangkan kemampuan menjaga dan amanat mencerminkan sisi moral dan mental yang memang dituntut pula untuk keberhasilannya.[1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengungkapkan: "Anehnya, sebagian orang memvonis demokrasi sebagai suatu yang jelas-jelas merupakan bentuk kemungkaran atau bahkan kekufuran yang nyata, sedang mereka belum memahaminya secara baik dan benar sampai kepada substansinya tanpa memandang kepada bentuk dan cirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di antara kaidah yang ditetapkan oleh para ulama terdahulu adalah, bahwa keputusan (hukum) terhadap sesuatu merupakan bagian dari pemahamannya. Oleh karena itu, barangsiapa menghukumi sesuatu yang tidak diketahuinya, maka hukumnya adalah salah, meskipun secara kebetulan bisa benar. Sebab, ibaratnya ia merupakan lemparan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, di dalam hadits ditetapkan bahwa seorang hakim yang memberi ke­putusan dengan didasarkan pada ketidaktahuan, maka dia berada di neraka, sebagaimana orang yang mengetahui yang benar, tetapi dia menetapkan atau menghukumi dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lalu apakah demokrasi yang didengung-dengungkan oleh berbagai bangsa di dunia, dan diperjuangkan oleh banyak orang, baik di dunia belahan barat maupun timur, di mana ada sebagian bangsa bisa sampai kepadanya setelah melalui berbagai pertempuran sengit dengan penguasa tirani, yang menelan banyak darah dan menjatuhkan ribuan bahkan jutaan korban manusia. Sebagaimana yang terjadi di Eropa timur dan lain-lainnya, dan yang banyak dari pemerhati Islam menganggapnya sebagai sarana yang bisa diterima untuk meruntuhkan kekuasaan monarki, serta memotong kuku­kuku politik campur tangan, yang telah banyak menimpa masyarakat muslim. Apakah demokrasi ini mungkar atau kafir, sebagaimana yang didengungkan oleh beberapa orang yang tidak memahami sepenuhnya lagi tergesa-gesa!!?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya substansi demokrasi -tanpa definisi dan istilah akademis- adalah memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih orang yang akan mengurus dan mengendalikan urusan mereka, sehingga mereka tidak dipimpin oleh penguasa yang tidak mereka sukai, atau diatur oleh sistem yang mereka benci. Selain itu, mereka juga harus mempunyai hak menilai dan mengkritik jika penguasa melakukan kesalahan, juga hak opsi jika penguasa melakukan penyimpangan, dan rakyat tidak boleh digiring kepada aliran atau sistem ekonomi, sosial, kebudayaan, atau politik yang tidak mereka kenal dan tidak pula mereka setujui. Jika sebagian mereka menghalanginya, maka balasannya adalah pemecatan atau bahkan penyiksaan dan pembunuhan."[2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya Islam telah mendahului sistem demokrasi dengan menetapkan beberapa kaidah yang menjadi pijakan substansi­nya, tetapi Islam menyerahkan berbagai rinciannya kepada ijtihad kaum muslimin sesuai dengan pokok-pokok agama mereka, ke­pentingan dunia mereka, serta perkembangan kehidupan mereka sesuai dengan zaman dan tempat, dan juga pembaharuan keadaan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kelebihan demokrasi adalah, bahwa ia mengarahkan di sela­-sela perjuangannya yang panjang melawan kezhaliman dan kaum tirani serta para raja kepada beberapa bentuk dan sarana, yang sampai sekarang dianggap sebagai jaminan yang paling baik untuk menjaga rakyat dari penindasan kaum tirani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak ada larangan bagi umat manusia, para pemikir dan pemimpin mereka untuk memikirkan bentuk dan cara lain, barang­kali cara baru itu akan mengantarkan kepada yang lebih baik dan ideal. Tetapi, untuk mempermudah kepada hal tersebut dan me­realisasikannya ke dalam realitas manusia, kita melihat bahwa kita harus mengambil beberapa hal dari cara-cara demokrasi guna me­wujudkan keadilan, permusyawaratan, penghormatan hak-hak asasi manusia, serta berdiri melawan kesewenangan para penguasa yang angkuh di muka bumi ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di antara kaidah syari'at yang ditetapkan adalah, bahwa sesuatu yang menjadikan hal yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia itu menjadi wajib, dan bahwasanya tujuan­tujuan syari'at yang diharapkan adalah jika tujuan-tujuan itu mem­punyai sarana pencapaiannya, maka sarana ini boleh diambil sebagai alat menggapai tujuan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak ada satu syari'at pun yang melarang penyerapan pemikiran teori atau praktek empiris dari kalangan non-muslim. Karena, Nabi saw sendiri pada perang Ahzab telah mengambil pemikiran "penggalian parit", padahal strategi tersebut berasal dari strategi bangsa Parsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selain itu, Rasulullah saw pernah juga mengambil manfaat dari tawanan musyrikin dalam perang Badar "dari orang-orang yang mampu membaca dan menulis" untuk mengajarkan baca tulis anak-anak kaum muslim.in, meski mereka itu musyrik. Dengan demikian, hikmah itu adalah barang temuan orang mukmin, di mana saja dia menemukannya, maka dia yang paling berhak atasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam beberapa buku, saya telah mengisyaratkan bahwa merupakan hak kita untuk mengambil manfaat dari pemikiran, strategi dan sistem yang bisa memberikan manfaat kepada kita, selama tidak bertentangan dengan nash muhkam (yang jelas) dan tidak juga kaidah syari'at yang sudah baku, dan kita harus memilih dari apa yang kita ambil untuk selanjutnya menambahkannya dan melengkapinya dengan bagian ruh kita serta hal-hal yang dapat menjadikannya sebagai bagian dari kita dapat dan menghilangkan identitas pertamanya."[3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ungkapan seseorang yang mengatakan, bahwa demokrasi berarti kekuasaan rakyat oleh rakyat dan karenanya, harus ditolak prinsip yang menyatakan, bahwa kekuasaan itu hanya milik Allah semata, maka ungkapan semacam itu sama sekali tidak dapat diterima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagi para penyeru demokrasi tidak perlu harus menolak kekuasaan Allah atas manusia. Hal seperti itu tidak pernah terbersit di dalam hati mayoritas penyeru demokrasi. Tetapi yang menjadi konsentrasi mereka adalah menolak kediktatoran yang sewenang-­wenang, serta menolak pemerintahan otoriter terhadap rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Benar, setiap yang dimaksudkan dengan demokrasi oleh me­reka adalah memilih pemerintah oleh rakyat sesuai dengan hati nurani mereka, serta memantau tindakan dan kebijakan mereka, serta menolak berbagai perintah mereka jika bertentangan dengan undang undang rakyat, atau dengan ungkapan Islam: "Jika mereka memerintahkan untuk berbuat maksiat," dan mereka juga mem­punyai hak untuk menurtmkan penguasa jika melakukan penyim­pangan dan berbuat zhalim serta tidak mau menerima nasihat atau peringatan. "[4]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya undang-undang menetapkan, di samping berpegang pada demokrasi, bahwa agama negara adalah Islam dan bahwasanya syari'at Islam adalah sumber hukum dan undang­undang, dan yang demikian itu merupakan penegasan akan kekuasaan Allah atau kekuasaan syari'at-Nya, dan kekuasaan itulah yang memiliki kalimat tertinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dimungkinkan juga untuk menambahkan pada undang-gundang materi yang secara tegas dan lantang menetapkan, bahwa setiap undang-undang atau sistem yang bertentangan dengan syari'at yang baku dan permanen, maka undang-undang itu adalah bathil."[5]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tidak ada ruang untuk pemberian suara dalam berbagai hukum pasti dari syari'at dan juga pokok-pokok agama serta hal­hal yang wajib dilakukan dalam agama, tetapi pemberian suara itu pada masalah-masalah ijtihadiyah yang mencakup lebih dari satu pendapat. Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk berbeda pendapat dalam hal tersebut, misalnya pemilihan salah satu calon yang akan menempati suatu jabatan, meskipun itu jabatan kepala negara, dan seperti juga pengeluaran undang-undang untuk mengatur lalu lintas jalan raya atau untuk mengatur bangunan tempat perdagangan atau industri atau rumah sakit, atau yang lainnya yang oleh para ahli fiqih disebut sebagai "mashalihul mursalah." Atau seperti juga pengambilan keputusan untuk mengumumkan perang atau tidak, mengharuskan pembayaran pajak tertentu atau tidak, atau mengumumkan keadaan darurat atau tidak, atau mem­batasi jabatan Presiden, dan pembolehan membatasi masa pemilihan atau tidak, demikian seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jika banyak pendapat yang berbeda dalam masalah ini, maka apakah pendapat itu akan ditinggal menggantung begitu saja, apa­kah ada tarjih tanpa murajjah (yang diunggulkan)? Ataukah harus ada murajjah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya logika akal, syari'at dan realitas menyatakan harus ada murajjah (yang diunggulkan), dan yang diunggulkan pada saat terjadi perbedaan pendapat adalah jumlah terbanyak. Sebab, pendapat dua orang itu lebih mendekati kebenaran daripada pen­dapat satu orang, dan dalam hadits disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"Sesungguhnya, syaitan itu bersama satu orang dan dia (syaitan) lebih jauh dari dua orang."[6].[7]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ungkapan orang yang menyatakan, bahwa tarjih (pengunggulan satu pendapat) itu adalah untuk yang benar meskipun tidak ada seorang pun pendukungnya. Adapun yang salah harus ditolak meskipun didukung oleh 99 dari 100. Ungkapan ini hanyalah tepat pada hal-hal yang ditetapkan oleh syari'at secara gamblang, tegas dan terang yang menyingkirkan perselisihan dan tidak mengandung perbedaan atau menerima pertentangan, dan hal itu hanya sedikit sekali. Itulah yang dikatakan: Jama'ah itu adalah yang sejalan dengan kebenaran meski engkau hanya sendirian.[8]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya petaka pertama yang menimpa umat Islam dalam perjalanan sejarahnya adalah sikap mengabaikan terhadap kaidah musyawarah, dan perubahan "Khilafah Rasyidah" menjadi "kerajaan penindas" yang oleh sebagian sahabat disebut "kekaisaran". Artinya, kekuasaan absolut Kaisar telah berpindah kepada kaum muslimin dari berbagai kerajaan yang telah diwariskan Allah ke­padanya. Padahal semestinya mereka mengambil pelajaran dari mereka dan menghindari berbagai kemaksiatan dan perbuatan hina yang menjadi sebab musnahnya negara mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang menimpa Islam, umatnya, serta dakwahnya di zaman modern ini tidak lain adalah akibat dari pemberlakuan pemerintahan otoriter yang bertindak sewenang wenang terhadap umat manusia dengan menggunakan pedang kekuasaan dan emas­nya, dan tidaklah syari'at dihapuskan, skularisme diterapkan, serta umat manusia diharuskan berkiblat ke barat melainkan dengan paksaan, memakai besi dan api. Tidaklah dakwah Islam dan ge­rakannya dipukul habis-habisan serta tidak juga para penganut dan penyerunya dihajar dan dikejar-kejar melainkan oleh kekuasaan otoriter yang terkadang tanpa kedok dan terkadang dengan meng­gunakan kedok demokrasi palsu yang diperintahkan oleh kekuatan yang memusuhi lslam secara terang-terangan atau diarahkan dari balik layar."[9]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di sini saya (Dr. Yusuf al-Qaradhawi) perlu menekankan, bahwa saya bukan termasuk orang yang suka menggunakan kata-kata asing, seperti misalnya; demokrasi dan lain-lainnya untuk mengungkapkan pengertian-pengertian Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tetapi, jika suatu istilah telah menyebar luas di tengah-tengah umat manusia dan telah dipergunakan oleh banyak orang, maka kita tidak perlu menutup pendengaran kita darinya, tetapi kita harus mengetahui maksud istilah tersebut, sehingga kita tidak me­mahaminya secara keliru, atau mengartikannya secara tidak benar atau yang tidak dikehendaki oleh orang-orang yang membicarakannya, dengan begitu hukum kita terhadapnya adalah hukum yang benar dan seimbang. Meski istilah itu datang dari luar kalangan kita, hal itu tidak menjadi masalah. Sebab, poros hukum itu tidak pada nama dan sebutan, tetapi pada kandungan dan substansinya."[10]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya (Dr. Yusuf al-Qaradhawi) termasuk orang yang menuntut demokrasi dalam posisinya sebagai sarana yang sangat mudah dan teratur untuk merealisasikan tujuan kita dalam kehidupan yang mulia, yang di dalamnya kita bisa berdakwah kepada Allah dan juga kepada Islam, sebagaimana kita telah beriman kepadanya, tanpa harus dijebloskan ke dalam penjara yang gelap atau dihukum di atas tiang gantungan."[11]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berkenaan dengan hal tersebut, dapat penulis katakan: "Dr. Yusuf al-Qaradhawi telah dengan sekuat tenaga membela demokrasi dalam menghadapi pemerintahan otokrasi atau pemerintahan tirani yang berbagai keburukan dan kesialannya telah dirasakan oleh Dr.Yusuf al-Qaradhawi dan Jama'ah Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, Dr. Yusuf al-Qaradhawi berusaha keras mempertahankan demokrasi dengan segenap daya dan upaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang lebih baik dilakukan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah, menegakkan hukum Islam yang di dalamnya terdapat konsep musyawarah Islami yang sudah cukup bagi kita dan tidak lagi memerlukan demokrasi ala Barat meskipun kita memolesnya dengan berbagai kebaikan dan keindahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jika kita menyaring demokrasi ini, lalu menambahkan bebe­rapa hal yang sesuai dengan agama kita atau mengurangi beberapa hal darinya yang memang bertentangan dengan agama, lalu mengapa kita harus menyebutnya demokrasi? Mengapa tidak menyebutnya syura (permusyawaratan) misalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan demikian, demokrasi Barat tidak disebut demikian kecuali diambil dengan seluruh kandungannya. Tetapi, jika diambil dengan melakukan penyesuaian, perubahan dan penyimpangan, maka hal itu secara otomatis menjadi sesuatu yang lain yang tidak mungkin kita sebut lagi sebagai demokrasi. Dalam hal ini, perum­pamaannya adalah sama dengan khamr jika rusak dengan sendirinya atau tindakan seseorang, maka pada saat itu tidak lagi disebut se­bagai khamr, tapi disebut cuka. Demikian pula demokrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jadi, yang harus dilakukan oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah menyeru kepada penegakan hukum Islam dengan menerap­kan sistem syura (permusyawaratan) yang adil, daripada mengobati suatu penyakit dengan penyakit lain, yang bisa jadi lebih berbahaya lagi bagi umat.[12]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[Disalin dari kitab Al-Qaradhaawiy Fiil-Miizaan, Penulis Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi, Edisi Indonesia Pemikiran Dr. Yusuf al-Qaradhawi Dalam Timbangan, Penerjemah M. Abdul Ghoffar, E.M. Penerbit Pustaka Imam Asy-syafi'i, Po Box: 147 Bogor 16001, Cetakan Pertama Dzulqa'dah 1423 H/Januari 2003]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;__________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Foote Note&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[1]. Al-Huluul al Mustaurida (hal. 77, 78).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[2]. Fataazva'Mu'aashirah (II/637).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[3]. Ibid (II/643).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[4]. Ibid (II/644-645)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[5]. Ibid (II/646).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[6]. HR. At-Tirmidzi, dalam al-Fitan dari `Umar (2166).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[7]. Fataawa' Mu'aashirah (II/647-648).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[8]. Ibid (II/649).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[9]. Ibid (II/649).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[10]. Ibid (II/650).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[11]. Ibid (II/650).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;[12]. Bagi yang berminat menambah pengetahuan tentang masalah demokrasi ini sekallgus mengetahui sisi-sisi negatif dan keburukannya, hendaklah ia mem­baca risalah al-Islamiyyuun wa Saraabud Demoqrathiyyah karya `Abdul Ghani (telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia : Fenomena Demokrasi, Studi Analisis Perpolitikan Dunia Islam oleh Abdul Ghany bin Muhammad Ar-rahhal -ed), Haqiiqatud Demoqrathiyyah karya Muhammad Syakir asy-Syarif, ad-Demoqra­thryyah fil Miizaan karya Sa'id Abdul Azhim dan Khamsuuna Mafsadah jaliyyah min Mafasidid Demoqrathiyyah karya `Abdul Majid ar-Riimi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-2226694479119471657?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/2226694479119471657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=2226694479119471657&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2226694479119471657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/2226694479119471657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/dr-yusuf-al-qaradhawi-dan-demokrasi.html' title='DR. YUSUF AL-QARADHAWI DAN DEMOKRASI'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4318067321928010404.post-4008933818518426443</id><published>2007-12-01T07:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T06:45:50.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Hadits Dhaif dan Maudu'</title><content type='html'>Suatu musibah besar yang menimpa kaum muslimin semenjak masa lalu adalah tersebarnya hadits dhaif (lemah) dan maudhu (palsu) di antara mereka. Saya tidak mengecualikan siapapun di antara mereka sekalipun ulama’-ulama’ mereka, kecuali siapa yang dikehendaki Allah di antara mereka dari kalangan para ulama’ Ahli Hadits dan penelitinya sepert Imam Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Main, Abu Hatim Ar Razi dan selain mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dampak yang timbul dari penyebarannya adalah adanya kerusakan yang besar. (Karena) di antara hadits-hadits dhaif dan maudhu itu, terdapat masalah (yang berkenaan dengan) keyakinan kepada hal-hal ghaib, dan juga masalah-masalah syari’at. Dan pembaca yang mulia akan melihat hadits-hadits tersebut, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh hikmah Allah, Dzat yang Maha Mengetahui menetapkan, untuk tidak meninggalkan hadits-hadits yang dibuat oleh orang-orang yang berpaling dari kebenaran, untuk tujuan yang bermacam-macam. Hadits itu “berjalan” di antara kaum muslimin tanpa ada yang mendatangkan dalam hadits-hadits itu orang yang (dapat) “menyingkapkan penutup” hakikatnya, dan menerangkan kepada manusia tentang perkara mereka. (Orang yang dimaksud tersebut adalah) Imam-Imam ahli hadits, yang membawa panji-panji sunnah nabawiyyah, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a bagi mereka dengan sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Semoga Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataanku, lalu menjaga, menghafal dan menyampaikannya. Karena bisa jadi orang yang membawa pengetahuan tidak lebih faham dari orang yang disampaikan”. [Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi (dan beliau menshahihkannya) dan Ibnu Hibban dalam shahihnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ ahli hadits telah menerangkan keadaan sebagaian besar hadits-hadits itu, baik itu shahihnya maupun dha’ifnya. Dan menetapkan dasar-dasar ilmu hadits, membuat kaidah-kaidah ilmu hadits. Barang siapa mendalami ilmu-ilmu itu dan memperdalam pengetahuan tentangnya, dia akan mengetahui derajat suatu hadits, walaupun hadist itu tidak dijelaskan oleh mereka. Yang demikian itu adalah (dengan) Ilmu Ushulul Hadits atau Ilmu Musthala Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ yang hidup pada masa belakangan telah mengarang satu kitab khusus untuk mengungkap suatu hadits, dan menerangkan keadaannya. Salah satu kitab yang termasyhur dan paling luas adalah kitab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"al-Maqosidu al-Hasanah fi Bayani Katsirin minal ahaadits al-Mustaharah 'alal alsinah" Yang dikarang oleh Al Hafidh As Sakhowi, dan kitab-kitab yang semisalnya, dari kitab-kitab “Takhrijul hadits”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab itu menerangkan keadaan hadits yang terdapat dalam kitab-kitab bukan ahli hadits, dan menerangkan hadits yang tidak ada asalnya. Seperti kitab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nasbu ar-Rayati li ahaditsil hidayah"&lt;br /&gt;Yang dikarang oleh al-Hafidz az-Zaila’i, dan kitab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Mughni an hamlil asfar fi al-Asfar fi Takhriji ma fil ihyai minal akhbar"&lt;br /&gt;Yang dikarang oleh al-Hafidh al-Iraqi, dan kitab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"At-Talhis al-Habir fi Tahrij ahadits ar-Rafi'i al-Kabir"&lt;br /&gt;Yang dikarang al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, dan juga kitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahriju Ahadits al-Kassyaf"&lt;br /&gt;Yang juga dikarang al-Hafidh Ibnu Hajar Asqalani dan juga kitab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahriju ahadits as-Syifaa"&lt;br /&gt;Yang dikarang oleh Syekh as-Suyuthi. Dan semua kitab-kitab tersebut diatas tercetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ulama-ulama ahli hadits tersebut, (semoga Allah membalas kebaikan mereka) telah memudahkan jalan bagi para ulama dan penuntut ilmu setelah mereka, sehingga mereka mengetahui derajat suatu hadits pada kitab-kitab itu dan kiab-kitab yang semisalnya. Akan tetapi kami melihat mereka (ulama’ dan penuntut ilmu) “dengan rasa prihatin”, telah berpaling dari membaca kitab-kitab yang tersebut di atas, mereka tidak mengetahui (dengan sebab berpaling dari membaca kitab-kitab tersebut diatas) keadaan hadits-hadits yang mereka hafalkan dari Syaikh-Syaikh mereka, atau yang mereka baca dari kitab-kitab yang tidak “memeriksa” hadits-hadits yang shahih atau dha’if, oleh karena itu hampir-hampir kita mendengarkan suatu nasihat dari orang-orang yang memberi nasihat, pengajian dari salah seorang ustadz atau khutbah dari seorang khathib, melainkan kita dapati hadits-hadits lemah atau palsu (disampaikan), dan ini adalah perkara yang membahayakan, (karena) dikhawatirkan atas mereka termasuk orang-orang yang diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barang siapa berdusta dengan sengaja atas namaku maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka”. [Hadits shahih mutawatir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya mereka walaupun tidak berniat berdusta secara langsung tetapi telah melakukan perbuatan dosa, karena mereka menukil hadits-hadits semuanya (tanpa menyeleksi), sedang mereka mengetahui bahwa dalam hadits-hadits itu terdapat hadits dha’if dan maudhu’. Dan mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat dengan sabdanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Cukuplah seorang dianggap pendusta karena menceritakan perkataan yang ia dengar” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau berkata :&lt;br /&gt;“Ketahuilah tidak akan selamat seorang lelaki yang menceritakan apa saja yang ia dengar, dan selamanya seorang tidak akan menjadi pemimpin jika ia menceritakan setiap perkataan yang ia dengar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Hibban berkata dalam shahihnya halaman 27 tentang bab : “Wajibnya masuk neraka bagi seseorang yang menyandarkan sesuatu ucapan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia tidak mengetahui kebenarannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menukil dengan sanadnya dari Abu Hurairah secara marfu’ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barang siapa berkata atasku apa yang tidak aku katakan,maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka”. [Sanad hadits ini hasan, dan asalnya dalam shahih Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Imam Ibnu Hibban berkata tentang bab “khabar yang menunjukkan benarnya apa yang kami isyaratkan padanya pada bab yang lalu”. Lalu ia menukil dengan sanadnya dari Samrah bin Jundub, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barang siapa menceritakan dariku suatu hadits dusta, maka ia termasuk seorang pendusta”. [Hadits riwayat Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah dengan apa yang disebutkan (diatas), bahwa tidak diperbolehkan menyebarkan hadits-hadits dan riwayat-riwayatnya tanpa tasabbut (mencari informasi tentang kebenarannya). Dan barang siapa melakukan perbuatan itu (menyebarkan hadits tanpa mencari kejelasan tentang kebenarannya terlebih dahulu) maka ia terhitung berdusta atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya berdusta kepadaku, tidak sebagaimana berdusta kepada salah seorang (di antara kalian), barang siapa berdusta kepadaku secara sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka”.[HR. Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena bahayanya perkara ini, saya berpendapat untuk memberi andil dalam “mendekatkan” pengetahuan tentang hadits-hadits yang kita dengar pada masa kini, atau hadits-hadits yang kita baca dalam kitab-kitab yang telah beredar, yang (tidak jelas kedudukannya) menurut ahli hadits, atau (hadits-hadits itu atasku palsu). Semoga hal ini menjadi peringatan dan mengingatkan bagi orang yang mengambil pelajaran sedang ia takut (kepada Allah Jalla Jala Luhu). [Lihat Silsilah Hadits Dhaifah halaman 47-51]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits Dhaif dan maudhu yang tersebar dan diyakini (bahkan) diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Hadits Palsu&lt;br /&gt;Rasululla Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa diberi (oleh Allah Jalla Jala Luhu) kelahiran seorang anak, lalu ia beradzan di telinga anaknya yang sebelah kanan da iqomah di sebelah kiri, maka syetan tidak akan membahayakan anak tersebut” [Silsilah Hadits Dhaifah jilid I hadits nomor 321]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Hadits Palsu&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa menunaikan haji ke Baitullah dan tidak berziarah (mengunjungiku) maka ia telah menjauhiku” [Silsilah Hadits Dhaifah jilid I hadits nomor 45]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Hadits Palsu&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menunaikan haji, lalu berziarah ke kuburku sesudah aku mati,maka ia seolah-olah berziarah kepadaku ketika aku masih hidup” [Silsilah Hadits Dhaifah jilid I hadits nomor 47]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Hadits Palsu&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berziarah ke kubur orang tuanya atau salah seorang dari keduanya setiap hari Jum’at, niscaya diampuni dan ditulis baginya kebaikan” [Silsilah Hadits Dhaifah jilid I hadits nomor 49]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Hadits Palsu&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa berziarah ke kubur kedua orang tuanya setiap hari Jum’at, lalu membaca di samping kubur kedua orang tuanya atau kubur salah seorang dari keduanya surat Yasin, niscaya diampuni dengan setiap ayat atau huruf (yang dibacanya)” [Silslah Hadits Dhaifah jilid I hadits nomor 30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi Th I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003. Diterbitkan Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Redaksi Perpsutakaan Bahasa Arab Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kamis, 16 Agustus 2007 02:25:16 WIB&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   HADITS DHA’IF DAN MAUDHU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4318067321928010404-4008933818518426443?l=moslemeen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://moslemeen.blogspot.com/feeds/4008933818518426443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4318067321928010404&amp;postID=4008933818518426443&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4008933818518426443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4318067321928010404/posts/default/4008933818518426443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://moslemeen.blogspot.com/2007/12/hadits-dhaif-dan-maudu.html' title='Hadits Dhaif dan Maudu&apos;'/><author><name>Muhammad Fikri Hidayatullah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gk1JChnp0ug/SKjODEiW3qI/AAAAAAAAAS0/WaUMcIPnd3Y/S220/405px-Rally180.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
